Penjualan Elpiji 3 kg Bersubsidi di Abdya Berangsur Stabil

21
Penjualan Elpiji 3 kg Bersubsidi di Abdya Berangsur Stabil/Ilustrasi

BLANGPIDIE,DILIPUTNEWS.COM – Upaya pengawasan dan penertiban yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dalam mengatasi kelangkaan gas bersubsidi serta penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET) yang akhir-akhir ini marak dilakukan oleh oknum pangkalan telah membuahkan hasil.

Dimana, pasca gencarnya penindakan yang dilakukan terhadap pangakalan elpiji nakal, saat ini penjualan elpiji yang diperuntukan bagi masyarakat miskin dalam kabupaten setempat berangsur normal.

Pantauan Media di sejumlah pangkalan Rabu (7/11) masyarakat mengeluarkan biaya sebesar Rp.22.500 atau Rp.23.000 untuk mendapatkan satu tabung isi ulang elpiji 3 kg bersubsidi di pangkalan. Dimana harga tersebut sesuai dengan surat keputusan Bupati Abdya nomor 461 tahun 2017 tentang penetapan harga eceran tertinggi (HET) gas bersubsidi 3 kg yakni sebesar Rp. 22.500 per tabung.

Dengan ketentuan untuk harga agen ke pangkalan atau sub penyalur Rp.18.500 per tabung dan keuntungan yang didapat pangkalan sebesar Rp.4000 per tabung. Bahkan dalam surat tersebut, pengusaha pangkalan dilarang menjual gas bersubsidi di luar wilayah kerja termasuk dari besaran harga yang telah ditentukan.

Kardinur warga Kecamatan Susoh mengaku lebih legah dengan kondisi harga elpiji bersubsidi yang kembali stabil serta mulai mudah untuk diperoleh. Biasanya, sebelum dilakukan penertiban dan pengawasan oleh instansi terkait, harga elpiji bersubsidi sangat bervariasi, mulai dari Rp.25.000-35.000 per tabung.

Kondisi tersebut tentu sangat memberatkan masyarakat, terutama bagi mereka yang berpenghasilan kecil. Selain itu, persediaan gas di pangkalan juga cepat habis, namun sebaliknya persediaan gas di kios non pangkalan malah cukup.

“Kami berharap kondisi harga yang normal ini, akan bertahan hingga ke depannya,” paparnya.

Zainal warga Kecamatan Jeumpa mengapresiasi upaya pemerintah yang telah bergerak cepat dalam menindak oknum pangkalan nakal, sehingga dapat menjadi pelajaran bagi oknum lain yang hendak berbuat curang.

Dia berharap pemerintah setempat serta pihak terkait lainnya, untuk terus melakukan melakukan pengawasan dan menindak jika ada oknum pemilik pangkalan yang bermain curang, sehingga berimbas pada harga gas yang melambung tinggi.

Aksi kecurang yang dilakukan oknum pangkalan nakal telah membuat masyarakat menjadi kesusahan untuk mendapatkan gas, apalagi cara yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan sangat tidak adil.

“Harapan kami upaya pengawasan terhadap penjualan gas ini terus berlanjut. Gas itu diperuntukkan untuk meringankan kebutuhan masyarakat miskin, namun dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat,” harapnya.(Putra)