Dua Anak Aceh Barat Meninggal Akibat Difteri

22
Dua Anak Aceh Barat Meninggal Akibat Difteri

Dua Anak Aceh Barat Meninggal Akibat Difteri
Dua Anak Aceh Barat Meninggal Akibat Difteri

MEULABOH | DiliputNews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, mencatat dua orang anak di daerah itu meninggal dunia karena terinfeksi penyakit “difteri” yang mengakibatkan gangguan pernafasan.

“Pasien difteri ini ditemukan tiga di Aceh Barat, dua anak meninggal dunia dan seorang lagi masih dalam pantauan karena sudah diobati dan sembuh,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Aceh Barat Suhada Bakri di Meulaboh, Senin (2/2).

Menurut dia, dengan ditemukannya dua anak meninggal dunia, maka Aceh Barat dinyatakan sebagai daerah kasus luar biasa (KLB). Dan Dinas Kesehatan melakukan vaksin terhadap masyarakat di daerah asal dua anak yang meninggal dunia tersebut.

Suhada menjelaskan, asal daerah dua anak tersebut adalah Kecamatan Kaway XXVI. Kejadian difteri ini terjadi dalam rentang 2012 hingga 2014. Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan rutin di tempat asal ditemukan penyakit mematikan itu.

“Pascaditemukannya kasus difteri, kami melakukan vaksin difteri, pertusis, tetanus (DPT) kepada masyarakat, terutama anak-anak. Sebab, difteri ini dapat menular, terutama apa anak-anak yang tidak terimunisasi,” ungkap dia.

Ia menjelaskan, kekhawatiran mencuatnya kembali kasus difteri ke depan karena pemahaman masyarakat terhadap pentingnya imunisasi anak masih disalahartikan. Akibatnya, banyak anak tidak diimunisasi.

“Masih kurang kesadaran masyarakat untuk imunisasi anak juga menjadi persoalan, Ada yang bilang imunisasi haram sehingga membuat program pencegahan belum maksimal,” kata dia.

Suhada menjelaskan difteri merupakan penyakit menular menyerang pernafasan anak. Pada saat pernafasan sudah tersumbat karena bakteri, maka akan terasa sesak nafas kemudian si anak akan mengalami kritis.

Penyakit mematikan ini baru dapat diketahui menyerang anak-anak pada usia tiga hingga empat tahun. Sedangkan upaya pencegahan hanya dapat dilakukan di saat anak belum memasuki usia satu tahun, kata dia.

Suhada juga mengakui, upaya pencegahan selama ini belum maksimal, sehingga ditemukan kasus tersebut. Akan tetapi, semua itu tidak terlepas dari pemahaman orang tua anak terhadap pentingnya imunisasi.

“Kasus ini sebenarnya seperti peristiwa gunung es. Satu saja kasus difteri ditemukan, maka di daerah itu sudah dinyatakan kejadian luar biasa. Apalagi, difteri ini mudah sekali menyebar dan mematikan,” kata Suhada Bakri.(red/ant)