Warga Aceh Barat Masih Takut Berobat Ke Rumah Sakit

52
Warga Aceh Barat Masih Takut Berobat Ke Rumah Sakit
Warga Aceh Barat Masih Takut Berobat Ke Rumah Sakit
Warga Aceh Barat Masih Takut Berobat Ke Rumah Sakit

MEULABOH | DiliputNews.com – Sebagian warga pedalaman Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh masih takut membawa keluarga berobat ke rumah sakit karena takut dipungut biaya, meski pemerintah sudah menjamin pelayanan kesehatan gratis.

“Karena tidak berani membawa ke rumah sakit, terpaksa kami rawat di rumah dengan pengobatan tradisional, ada yang bilang penyakit anak saya cuma penyakit kampung biasa,” kata salah seorang keluarga pasien Jamilah (40) di Meulaboh, Rabu.

Didampingi suaminya Sarung (50) warga Desa Cot Murong, Kecamatan Woyla ini,dirinya memiliki lima orang anak, satu diantaranya Yusrawati (12) menderita radang otak (Encephalitis) sudah 20 hari koma tidak sadarkan diri namun tidak berani dibawa kerumah sakit.

Spesialis anak Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien (RSUD-CND) Meulaboh dr Harisma Saputra menjelaskan, kondisi anak tersebut saat masuk kerumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri dan kejang-kejang.

“Anak ini menderita radang otak, sudah dirawat dirumah 20 hari secara tradisional, terlalu lama kuman masuk kedalam otak sehingga memperjelek kondisi anak, sebab dia sudah berumur 12 tahun tapi masih berat badan 10 kg,” katanya.

Sebelum dibawa kerumah sakit, anak tersebut awalnya menderita gizi buruk sehingga pertumbuhannya terhambat, namun karena tidak ada perhatian dari keluarga penyakit dideritanya itu semakin parah sehingga mengalami radang otak.

Kata dr Haris, pihak medis RSDU-CND mengupayakan anak tersebut sadar sambil memperbaiki gizinya, karena sampai saat ini wanita belia ini tidak bisa makan melalui mulut karenanya harus mengunakan alat pembantu selang.

Meski demikian sejak dirawat pada Selasa (27/1) malam, kondisi anak ini sudah mulai membaik karena asupan gizinya tidak diberikan secara paksa sebagaimana dilakukan oleh keluarga saat pengobatan dirumah.

“Saluran pernafasannya sudah enak, sebelumnya dirawat dirumah selama 20 hari tidak sadar tapi terus dikasih makan melalui mulut, makanan itu tidak masuk kedalam perut tapi kedalam paru-parunya, karena itu infeksi kuman terus menyebar,” katanya.

Apabila perkembangan kesehatan anak tersebut masih lambat maka akan dirujuk ke rumah sakit Zainoel Abidin Banda Aceh. Khasus demikian baru pertama ditemukan di Aceh Barat karena lemahnya pemahaman masyarakat terhadap berbagai penyakit.

Pihak rumah sakit juga masih melakukan pemeriksaan lebih intens, karena ada dugaan bahwa penyakit tersebut ada kaitan dengan pengaruh genetik, karena ada dua saudara Yusrawati juga menderita nganguan pertumbuhan dan pendengaran.(red/ant)