Sekolah di Abdya Memakai Dua Kurikulum Berbeda

oleh
Sekolah di Abdya Memakai Dua Kurikulum Berbeda
Sekolah di Abdya Memakai Dua Kurikulum Berbeda
Sekolah di Abdya Memakai Dua Kurikulum Berbeda

BLANGPIDIE | DiliputNews.com – Sejumlah sekolah di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) memakai dua kurikulum berbeda yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) setempat. Dualisme kurikulum pendidikan tersebut, menyusul dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Anies Baswedan yang menyatakan penghentian pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) bagi sekolah-sekolah baru menerapkan kurikulum dimaksud selama satu semester.

Sedangkan bagi sekolah-sekolah yang telah menerapkan hingga tahun kedua, dianjurkan untuk tetap melanjutkan penerapan kurikulum baru itu. Namun keputusan itu, membuat kalangan pendidikan setempat terpaksa harus menerapkan dua kurikulum yang berbeda, meskipun menuai pro dan kontra dalam kalangan pendidikan itu sendiri.

Kepala SMKN 2 Blangpidie, Rusni SPd kepada wartawan Jum’at (19/12) mengatakan, pihaknya akan kembali menerapkan kurikulum 2006, setelah dikeluarkannya surat edaran dari Kemendikbud tentang penghentian pelaksanaan K-13 bagi sekolah-sekolah baru menerapkan selama satu semester.
Menurutnya, K-13 merupakan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia pendidikan.

Namun, kebijakan dari pemerintah untuk kembali ke kurikulum 2006 tetap harus dilaksanakan. Disebutkan, hampir seluruh guru di sekolah yang ia pimpin telah mengikuti pelatihan kesiapan penerapan K-13 serta telah menjalankan K-13 selama satu semester.

Ditambahkan, untuk kembali ke kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bukanlah hal yang susah dan dapat langsung diterapkan. Sebab para dewan guru sebelumnya telah terlatih dan memiliki kelengkapan kegiatan belajar mengajar (KBM), bahkan para guru dapat lebih terbantu dalam mengajar sebab sudah teruji.

“Kita di sekolah tetap menjalankan apa yang telah menjadi kebijakan dan keputusan dari pemerintah, yang intinya sama-sama untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Abdya, Drs Yusnaidi MPd, akan hal itu mengaku tidak ada persoalan mengenai pelaksanaan dua kurikulum dalam kabupaten tersebut. Meskipun harus menerapkan dua kurikulum secara bersamaan.

Setiap kebijakan yang dihasilkan tentunya mempunyai kelebihan dan kekurang tersendiri. Begitu juga dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Kemendikbud, yang menyebabkan banyak buku referensi K-13 tidak dapat digunakan, bahkan menimbulkan kerugian karena telah dilakukan pengadaan buku referensi dalam jumlah yang besar.

“Untuk di Abdya, buku-buku referensi K-13 tetap akan digunakan, sebagai penunjang dan penyeimbang dari buku referensi KTSP. Jadi tidak ada mubazir dan terbuang percuma,” terangnya.

Disebutkan, ada satu SMA, dua SMP dan dua SD yang hingga saat ini masih terus melaksanakan K-13. Karena sekolah-sekolah dimaksud dijadikan sebagai percontohan penerapan K-13 sebelumnya dan telah berjalan hingga tahun kedua. Sedangkan untuk sekolah lainnya mulai dari jenjang SD hingga SMA harus kembali ke KTSP.

“Hal ini merupakan hal yang biasa dan kita hanya menyesuaikan saja. Begitu juga sekolah dalam hal ini dewan guru dan para siswa. Dapat menyesuaikan diri, karena referensei untuk KTSP lengkap dan referensi K-13 juga ada. Kembali lagi kepada gurunya, mampu atau tidak dalam menjalankan sebuah kurikulum,” paparnya.

Dijelaskan, K-13 merupakan kurikulum baru sebagai pengganti KTSP yang telah berlaku selama 6 tahun. K-13 masuk dalam masa percobaan di tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah sebagai percobaan. Secara umum, tidak ada perbedaan yang terlalu besar antara K-13 dengan KTSP, sebab sama-sama mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan nasional.

“Tujuannya sama, hanya saja strategi yang digunakan sedikit berbeda. Jadi untuk sekolah-sekolah di Abdya akan terus menjalankan kedua kurikulum ini secara bersamaan,” singkatnya. (Red/Zal)