BBM Naik, Akan Ada Peningkatan Biaya Angkutan di Abdya

oleh
Peningkatan Biaya Angkutan di Abdya
Peningkatan Biaya Angkutan di Abdya
Peningkatan Biaya Angkutan di Abdya

BLANGPIDIE | DiliputNews.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang baru saja ditetapkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memunculkan sejumlah masalah di tingkat daerah. Seperti di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kelangkaan BBM mulai kosong di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), bahkan harga BBM jenis premium ditingkat eceran semakin tinggi yaitu mencapai Rp.10.000 per liter dari harga sebelumnya sekitar Rp.8000 per liter.

Sejumlah warga terpaksa harus membeli BBM dari pedagang aceran, mengingat ketersediaan BBM di SPBU tidak dapat dipastikan, meskipun harga jual BBM berbeda jauh dari harga layaknya di SPBU yaitu Rp.8500 per liter dan Rp.7500 untuk harga solar.

Selain itu, kenaikan BBM juga berimbas pada kenaikan harga barang, baik itu kebutuhan rumah tangga hingga kebutuhan barang bangunan. Bahkan tarif angkutan umum dan barang juga akan mengalami kenaikan harga.

Ketua DPC Organda Abdya, Syahril kepada wartawan, Selasa (18/11) mengatakan, wacana kenaikan tarif angkutan umum dan barang tentunya ada, kalau subsidi BBM tidak diberikan kepada angkutan umum oleh pemerintah pusat.

Ditambahkan, berdasarkan hasil keputusan musyawarah kerja nasional Organda di Semarang, DPP Organda memutuskan terhitung pada Rabu (19/11) seluruh angkutan umum dan barang akan berhenti beroperasi sampai dengan tuntutan Organda yaitu subsidi BBM tetap diberikan kepada anggkutan umum dan barang oleh pemerintah.

“Organda akan terus mengupayakan, agar tarif angkutan tidak mengalami kenaikan, salah satunya dengan cara meminta pemerintah untuk tetap memberikan BBM bersusidi kepada anggkutan umum, sehingga kebutuhan masyarakat tidak semakin berat dan sulit,” ujar Syahril.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM), Drs Sulaiman MM, secara terpisah berpendapat kenaikan harga BBM bersubsidi sudah menjadi suatu masalah klasik bagi seluruh elemen masyarakat terutama di Abdya.

Segala sesuatu yang berkenaan dengannya pasti menuai kontroversi.
Seperti diketahui bahwa BBM telah menjadi elemen penting bagi banyak masyarakat terutama bagi mereka yang mengandalkan usaha dengan menggunakan BBM, seperti para nelayan, supir bus dan angkutan umum lainnya, pedagang dan sebagainya. Pendapatan sebagian besar dari golongan masyarakat ini pun tegolong rendah sehingga apabila harga BBM dinaikkan maka pendapatan dan keuntungan yang akan mereka peroleh akan berkurang.

“Tentunya pemerintah mempunyai tujuan tertentu mengapa harga BBM bersubsidi dinaikan. Meskipun gejolak harga pasti akan terjadi. Kalau masih dalam kondisi dan taraf yang wajar kita akan berupaya mentralisir harga barang dengan melakukan operasi pasar,” terangnya.

Sejauh ini, Disperindagkop dan UKM Abdya akan terus berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan harga barang di pasaran, meskipun terjadi kenaikan yang kritis pemerintah akan mengupayakan kebijakan lain yang lebih merakyat.

“Pemerintah kita pun tidak serta merta menaikkan harga BBM. Pemerintah ikut bertanggungjawab menanggulangi masalah akibat kebijakan ini melalui program-programnya. Memang dalam hal-hal tersebut mekanisme regulasi dan transparansi yang dilakukan pemerintah masih kurang. Namun yang namanya proses memang membutuhkan waktu, dengan demikian subsidi itu akan benar dirasakan oleh masyarakat kecil, bukan oleh kalangan orang berada,” tuturnya. (Red/Zal)