Mengharap PKS, Petani Sawit Abdya Belum Sejahtera

  • Whatsapp
Petani Sawit Abdya Belum Sejahtera
banner 468x60
Petani Sawit Abdya Belum Sejahtera
Petani Sawit Abdya Belum Sejahtera

BLANGPIDIE | DiliputNews.com –  Para kalangan petani sawit di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menginginkan agar terbangunnya pabrik kelapa sawit (PKS). Sebab, PKS yang seharusnya menjadi kebutuhan bagi petani setempat untuk memaksimalkan nilai jual serta menjadi pendapatan asli daerah (PAD), hingga saat ini belum terwujud dan masih menjadi mimpi masyarakat petani sawit Abdya.

Seluruh tandan buah segara (TBS) mau tidak mau harus dibawa keluar daerah seperti Kabupaten Nagan Raya dan Kota Subulussalam untuk dilakukan proses pengolahan menjadi CrudePalm Oil (CPO).

Muat Lebih

banner 300250

Selama ini Kabupaten Abdya yang memiliki lahan sawit produktif 10.130 hektare dengan hasil per bulan mencapai 18.234 ton hanya mendapatkan keuntungan kecil dari harga jual, sementara keuntungan lainnya yang berimbas langsung terhadap peningkatan PAD dan kesejahteraan rakyat petani tidak pernah dirasakan.

Syahril salah seorang petani sawit di Kecamatan Jeumpa, Kamis (23/10) mengatakan, selama ini para petani sawit hanya menjual hasil panen dengan harga menurut ketentuan para agen yang mengaku sebagai harga pasaran. Jika dibandingkan dengan daerah lain yang memiliki PKS, harga jual TBS bisa lebih tinggi.

“Harga jual TBS untuk sekarang sekitar Rp.1.100 per kilogram, hal ini disebabkan daerah kita tidak memiliki PKS. Jika saja PKS sudah ada di Abdya, tentu harga jualnya bisa lebih tinggi dan bisa memakmurkan petani bahkan juga bisa mendatangkan pemasukan bagi daerah,” kilasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Abdya, Herman Suriadi diruang kerjanya, mengakui bahwa selama ini hasil panen sawit di Abdya semakin meningkat. Namun tetap saja belum mampu memberikan PAD bagi Abdya, sebab PKS belum ada.

“Hasilnya sudah maksimal, namun kita masih kurang satu, yaitu belum adanya PKS yang bisa dijadikan sebagai ladang PAD dari sektor perkebunan sawit,” tuturnya.

Masyarakat belum bisa menikmati keuntungan dari sawit dengan maksimal hingga manfaat lain dari sawit dan tentunya sektor perkebunan sawit akan lebih baik jika dilengkapi dengan keberadaan PKS.

“Petani sawit kita masih dikatakan rugi dalam perjualan hasil panen tanpa kehadiran PKS, yaitu sekitar Rp.100- Rp200 per kilogram,” jelasnya.

Lebih lanjut, sejauh ini Pemkab Abdya akan terus berupaya guna mengahadirkan PKS di Abdya, bahkan sejumlah investor juga telah melihat kondisi lapangan untuk membangun PKS.

Sementara saat disinggung soal bangunan PKS di kawasan Babahrot yang masih menjadi tanda tanya akibat sejumlah persoalan hukum yang melilit, Herman menjawab hingga sekarang pembangunannya masih ditunda. Pemerintah Abdya, masih menanti keputusan hukum atas permasalahan yang terjadi pada proyek pembangunan PKS.

Perlu diketahui, pembangunan PKS Babahrot yang dilakukan pada tahun 2010 lalu dengan menggunakan dana Otonomi Khusus (Otsus) Kabupaten Abdya sebesar Rp 30 miliar. Namun karena terjadi sejumlah permasalahan, pembangunan pabrik hanya berjalan 80 persen atau menelan biaya sekitar Rp 21 miliar.

Lahan seluas 6 hektare yang diperuntukkan untuk pembangunan PKS Abdya, dulu sepat terjadi polemik antara legislatif dan eksekutif bahkan sempat singgah keranah hukum, menariknya, hampir empat tahun lebih segenap persoalan hilang tidak berbekas. (Red/Zal)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60