Ajarkan Pacaran, Disdik Abdya Tahan Buku PJOK

21
Ajarkan Pacaran, Disdik Abdya Tahan Buku PJOK

Ajarkan Pacaran, Disdik Abdya Tahan Buku PJOK
Ajarkan Pacaran, Disdik Abdya Tahan Buku PJOK

BLANGPIDIE | DiliputNews.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menarik seribuan buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di seluruh sekolah menengah atas (SMA) sederajat dalam kabupaten setempat. Pasalnya, buku baru untuk penunjang pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 tersebut dinilai mengajarkan remaja tentang berpacaran sehat.

Kepala Disdik Abdya, Drs Yusnaidi M.Pd melalui Sekretarisnya Edwar Taufik, Selasa (21/10) membenarkan, dalam buku tersebut dijelaskan seakan-akan berpacaran untuk anak sekolah dibenarkan. Bahkan dituliskan dalam buku tersebut tata cara berpacaran yang baik. Namun dia mengaku buku yang baru sampai beberapa pekan lalu itu belum sempat dibagikan pada murid kelas XI seluruh SMA sederajat.

“Pada halaman 129 itu dituliskan gaya berpacaran yang sehat, seolah-olah dibenarkan untuk berpacaran. Padahal kita mengetahui dalam Agama Islam saja tidak dikenal dengan pacaran,” ujar Edwar.

Disdik Abdya bersama dengan seluruh kepala sekolah mengambil kesimpulan untuk menunda pembagian buku tersebut dan rencana akan mengembalikan buku yang dibeli dari anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Buku-buku ini kita tarik dari seluruh sekolah, karena dianggap tidak layak untuk anak didik di Abdya dan Aceh pada umumnya. Pada halaman 129 jelas tertulis dan diajarkan bagaimana tata cara berpacaran yang baik. Sedikitnya ada 4 poin dituliskan gaya berpacaran yang benar dan baik,” terangnya.

Diantaranya berpacaran yang baik itu disebutkan sehat fisik dan juga tidak ada kekerasan, selanjutnya dituliskan sehat emosional yang dimaksudkan keduanya saling pengertian dan keterbukaan. Kemudian sehat sosial yang dimaksudkan secara gamblang dituliskan bahwa tidak baik berpacaran seharian penuh bersama dengan pacar.

“Jelas ini seakan-akan selain berhubungan seks dibolehkan, seperti pegang-pegang dan lain-lain, padahal itu lagi-lagi tidak dibenarkan dalam Agama Islam,” jelasnya.

Menurutnya, lolosnya buku-buku terbitan pusat kurikulum dan pembukuan Balitbang, Kemendikbud tahun 2014 yang demikian itu tidak terlepas setiap buku yang diterbitkan tidak dilakukan uji publik. Sehingga buku yang beredar itu tidak sesuai dengan kearifan lokal di daerah masing-masing.

Jika tidak ada buku lain sebagai alternatif pengganti buku tersebut, ia mengaku tak ada pilihan lain, dan terpaksa mencopot halaman-halaman yang berisi materi tentang cara berpacaran yang dinilai tidak sesuai dengan budaya dan Syariat Islam. Sebab tidak mungkin lagi menggunakan buku lama sebagai referensi pembelajaran, karena tidak sesuai dengan kurikulum tahun 2013.

“Sejauh ini kita masih menunggu arahan dari Disdik Provinsi Aceh, bagaimana langkah selanjutnya mengenai buku-buku PJOK ini,” singkatnya.(Red/Zal)