BPBD Aceh Barat Normalisasi Sungai Cegah Banjir

15
BPBD Aceh Barat Normalisasi Sungai Cegah Banjir

BPBD Aceh Barat Normalisasi Sungai Cegah Banjir
BPBD Aceh Barat Normalisasi Sungai Cegah Banjir

MEULABOH | DiliputNews.com –  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat bersama Dinas Cipta Karya dan Pengairan melakukan normalisasi sungai dan pembersihan drainase guna mencegah banjir menyusul cuaca ekstrem melanda sebagian wilayah Provinsi Aceh.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat Saiful AB di Meulaboh, Jumat, mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya banjir di musim penghujan saat ini dan sudah merupakan kegiatan rutin apalagi pasca dilanda bencana alam banjir.

“Ini sudah program yang selalu dilakukan untuk mencegah terjadi banjir di Aceh Barat, selain normalisasi sungai dan drainase juga ada beberapa upaya lainnya termasuk menyediakan lokasi tempat penampungan,” katanya.

Didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Aceh Barat Dedek Arisman dia menjelaskan, pemerintah sudah membangun 17 unit tempat penampungan untuk menyelamatkan warga saat dilanda banjir.

Dia menjelaskan, pembangunan balai lokasi penampungan banjir tersebut sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir yang ditempatkan di kawasan berisiko tinggi akibat banjir terutama yang jauh dari jangkauan.

Kabupaten Aceh Barat merupakan salah satu daerah yang rentan dilanda banjir apabila diguyur hujan lebat, karena itu tim siaga bencana baik BPBD, Meulaboh Resque, Tagana dan organisasi lainnya selalu siaga dengan sarana komunikasi di lapangan.

“Untuk upaya pencegahan dan pertolongan bencana alam banjir selalu menjadi perhatian, kita juga selalu siap baik tim evakuasi maupun penyaluran logistik saat dibutuhkan,” imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan, banjir yang melanda tujuh dari 12 kecamatan Aceh Barat dua hari terakhir sudah menyebabkan kerugian besar, baik kerusakan infrastruktur seperti jembatan maupun palawija pertanian.

Sebutnya, satu jembatan penghubung di Teupin Peuraho kecamatan Arongan Lambalek terputus dan sudah dibuatkan jembatan darurat sehingga dapat dilalui masyarakat, sementara kerusakan palawija petani masih dalam pendataan.

Jelas Dedek Arisman, data sementara yang diterima kerusakan paling banyak adalah sektor pertanian seperti kacang tanah, cabai dan tanaman padi, hampir setiap desa melaporkan ada kerusakan tanaman 2-5 hektar.

“Paling banyak kerusakan akibat banjir adalah palawija pertanian, sementara jembatan sudah kita tangani, kondisi hari ini sudah normal, tidak ada lagi kawasan yang masih digenangi air banjir dan logistik kemarin juga sudah kita salurkan,” katanya menambahkan.(Red/Ant)