Pemerintah Aceh Dinilai Munafik Karena Terima Bill Clinton

oleh
Mahasiswa Sebut Pemerintah Aceh Munafik Karena Terima Bill Clinton
Mahasiswa Sebut Pemerintah Aceh Munafik Karena Terima Bill Clinton
Mahasiswa Sebut Pemerintah Aceh Munafik Karena Terima Bill Clinton

BANDA ACEH | DiliputNews.com – Puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Aceh menggelar aksi di depan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Sabtu(19/7), Blang Bintang, Aceh Besar. Pada aksi itu mahasiswa menolak kedatangan mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton yang dibubarkan paksa oleh pihak kepolisian karena tidak mengantongi izin.

Sehingga adu mulut dan saling tarik menarik pun tak dapat dihindari. Bahkan polisi nyaris menangkap seorang demontran yang mencoba melawan dan rencana tetap bertahan di lokasi aksi. Namun pihak kepolisian tetap bersikeras untuk membubarkan paksa aksi yang tidak ada surat pemberitauan pada pihak kepolisian Polresta Banda Aceh.

Meskipun sudah dibubarkan paksa oleh pihak Polresta Banda Aceh, peserta aksi tetap bertahan dan berkumpul radius 200 meter dari lokasi semula depan pintu masuk Bandara SIM Blang Bintang.

Mereka tetap saja berorasi dan belum kembali ke kampus masing-masing. Namun pihak kepolisian hanya mengawasi dari jarak jauh aktivitas mahasiswa tersebut.

Koordinator Aksi, M Reza Fahlevi mengatakan, alasan peserta aksi menolak kedatangan Bill Kinton karena dianggap Amerika mendukung zeonis Israel menyerang Palestina yang membuat banyak korban sipil, anak-anak dan wanita yang tidak berdosa. Bahkan dianggap Amerika telah menyokong Israel untuk menghancurkan Palestina.

“Aksi ini kami menolak kedatangan Bill Clinton, dia buta terhadap Palestina, harusnya dia peduli,” kata M Reza Fahlevi.

Lanjutnya, Pemerintah Aceh uga dituding oleh mahasiswa munafik karena menerima kedatangan Bill Clinton ke Aceh. “Ini sama saja telah menginjak-nginjak martabat orang Aceh kalau menerima kedatangan Bill Clinton, harusnya Pemerintah Aceh menolak kedatangan Bill Clonton, karena kita mengingkan Palestina merdeka dan tidak lagi dijajah oleh Israel,” tutupnya.[Red/HB]