Sekitar 42 Persen Warga Abdya Golput

oleh
Sekitar 42 Persen Warga Abdya Golput
Sekitar 42 Persen Warga Abdya Golput
Sekitar 42 Persen Warga Abdya Golput

BLANGPIDIE | DiliputNews.com – Angka pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya atau golongan putih (Golput) pada pemilihan umum (Pemilu) Presiden 2014 di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tergolong sangat tinggi. Dari jumlah data pemilih tetap (DPT) 96.477 jiwa ditambah daftar pemilih khusus (DPK) 973 jiwa, diperkirakan 40.900 sekian atau 42 persen, tidak hadir ke TPS untuk memberikan hak suaranya.

“Angka golput di pilpres ini lebih tinggi dibandingkan golput ketika pileg lalu disamping tidak hadir ke TPS juga termasuk suara rusak,” kata Ketua KIP Abdya, Elfiza SH MH, Selasa (15/7) di ruang kerjanya.

“Ada beberapa faktor yang menyebabkan angka golput meningkat, satu diantaranya, karena para pemilih sudah jenuh menyoblos. Pasalnya, baru April kemarin nyoblos, berselang berapa bulan nyoblos lagi,” tambah Elfiza.

Tak hanya itu, Ketua KNPI Abdya Idris SHi juga menambahkan, selain faktor kejenuhan, meningkatnya angka golput juga karena tidak adanya kedekatan emosional dengan calon masing presiden. juga, belum adanya sinkronisasi tentang sosialisasi antara panitia penyelenggara, pengawas, serta peserta pemilih.

Lanjut Idris, selain itu, para peserta lebih memilih bekerja daripada menyoblos, seperti para perantau, termasuk juga para mahasiswa yang lagi kuliah diluar daerah, tak mau pulang untuk menyoblos. “Ditambah lagi, karena peserta kelelahan akibat nonton piala dunia,” tuturnya lebih lanjut.

Sementara itu Tokoh LSM, Sekjen Aceh Future (AF), Syukrillah merupakan warga Abdya yang berkantor di Banda Aceh, mengatakan, penyebabnya, pertama, karena faktor calon dan kekuatan politik dua kubu yang sama-sama memiliki kontribusi buruk atas konflik Aceh masa lalu, khususnya terkait dengan Kebijakan Megawati dan Prabowo.

Kedua, Pengaruh persinggungan waktu dengan even piala dunia (Khusu Pemilih pemuda dan pemula), ketiga, sosialisasi dari penyelenggara yang kurang ke akar rumput, keempat, sebagian masyarakat Aceh merasa dikianati oleh Pemerintah Pusat atas keberlanjutan regulasi undang-undang pemerintah Aceh (UUPA), sehingga merasa siapa pun pemimpin di tingkat pusat nyaris tak berpengaruh bagi Aceh dan terakhir, dua-duanya buruk, dan memilih untuk tidak memilih jauh lebih baik.

“Dan banyak lagi point penting yang bisa kita kemukakan yang menjadikan angka golput di Aceh, khususnya Abdya. Sampai nanti pada faktor demografi (jumlah penduduk) yang relatif sedikit di bandingkan penduduk pulau jawa, sehingga terbentuk perspektif politik ‘acuh’,” demikian ungkapnya.

Sementara salah seorang tokoh masyarakat, Sulaiman secara singkat mengungkapkan, Masyarakat banyak yang pesimis dengan pemimpin saat ini, mereka beranggapan pilih ngak pilih sama aja. “Mendingan diam, jauh lebih baik, sebab siapapun memimpin nantinya juga akan terjadi seperti hal yang serupa,” singkatnya (Red/Zal)