Pelaku Kekerasan Di Aceh Tidak Takut Kepada Polisi

oleh
Pelaku Kekerasan Di Aceh Tidak Takut Kepada Polisi
Pelaku Kekerasan Di Aceh Tidak Takut Kepada Polisi
Pelaku Kekerasan Di Aceh Tidak Takut Kepada Polisi

BANDA ACEH | DiliputNews.com – Peristiwa penembakan di Bireuen yang menewaskan tiga warga Jeunib, merupakan bentuk nyata dari kondisi Aceh yang semakin tidak stabil dari sisi keamanan. Peritiwa ini juga punya korelasi dengan berbagai kasus kekerasan lainnya yang terjadi di Aceh menjelang pemilu.

Dalam amatan Aryos Nivada, selaku pengamat politik dan keamanan Aceh, kasus Bireuen merupakan bentuk masih adanya dendam ditengah-tengah para peserta pemilu. Juga diakibatkan oleh kehadiran para caleg yangs emakin jelas berorientasi pada kekuasaan, sehingga sering memantik api ditengah kondisi psikologi rakyat yang tertekan.

“Dendam dipupuk oleh para caleg. Argumen-argumen mereka baik saat kampanye terbuka maupun di kegiatan lain, sering menjadi pemantik api. Hal ini tentu mendapat sahutan ditengah kondisi psikologi rakyat yang tertekan, baik karena ketidakjelasan hukum, juga karena faktor ekonomi,” jelas Aryos.

Aryos juga menilai, aksi di Bireuen adalah sebuah pembunuhan yang telah dirancang matang. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan pelaku dalam menghemat peluru. Namun, terkait dengan tewasnya seorang batita, kemungkinan pelaku tidak tahu bila anak tak berdosa itu ikut serta dalam rombongan. Hal ini bisa saja terjadi, dikarenakan lemahnya mapping diantara pelaku.

Dirinya menambahkan, secara modus (pola) berbeda sekali jika disbanding pada kriminalitas di pilkada 2012. Sekarang cenderung sporadic tetapi memiliki target yang sudah ditentukan. Sehingga sangat sulit terdekteksi pihak penegak hukum.

Suka atau tidak, kekerasan demi kekerasan terjadi di Aceh, dikarenakan tidak adanya kemampuan merdam konflik oleh lembaga pelaksana pemilu. Lembaga seperti Bawaslu dan KIP bertindakan tegas terhadap penyimpangan yang dilakukan partai politik melalui calegnya.

Di sisi lain, ketidak tegasan Polda Aceh dalam bekerja, juga punya andil besar semakin maraknya kekerasan. pelaku tidak pernah takut terhadap polisi. Karena mereka paham bahwa polisi telah tersandera dalam permainan lain, sehingga takkan pernah “mampu” mengungkap pelaku intelektual dari setiap kekerasan.

Untuk itu, Aryos memiliki solusi mengatasi maraknya kriminalitas bernuansa politik di Pemilu 2014. Ia mensarankan agar Polda Aceh melakukan razia rutin terus menerus sampai selesai Pemilu, mengaktifkan kembali Siskamling dan Pansuakarsa, memasifkan kegiatan patrol oleh Polda Aceh, mendudukan para ketua partai politik untuk menginstruksikan kepada jajaran dibawahnya.

Tujuannya agar tunduk terhadap peraturan dan bersikap menjunjung etika dan menciptakan kondisi damai. Terakhir peran dari Tentara Nasional Indonesia harus dilibatkan guna membantu kerja-kerja mensukseskan pemilu. Tentunya harus sesuai mekanisme regulasi yang memandatkannya.(Red)