FPI Minta Ulama Menjadi Mediator Kekerasan Pemilu Di Aceh

oleh
Pemilu / Ilustrasi
Pemilu / Ilustrasi
Pemilu / Ilustrasi

BANDA ACEH | DiliputNews.com – Kekerasan politik menjelang Pemilu meningkat drastis di Aceh. Semakin dekat dengan hari H semakin meningkat pula angka kriminal, baik yang diekspos maupun yang tidak diekspos oleh media. Diantara kasus yang paling sadis adalah terbunuhnya korban dari kalangan anak kecil yang tidak berdosa di Bireuen baru-baru ini.

Atas dasar tersebut Front Pembela Islam (FPI) Aceh berharap kepada  ulama terutama Majlis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA), Majlis Permusyarawatan Ulama (MPU) Aceh dan Himpunan Ulama Dayah  Aceh (HUDA) menjadi penengah atau mediator atas  konflik kekerasan terkait Pemilu akhir-akhir ini di berbagai kabupaten/kota di Aceh.

Kami (FPI) yakin, bahkan haqqul yakin semua kalangan di Aceh dari berbagai latar belakang partai dan ormas masih mendengar petuah-petuah dari ulama.

Oleh karena demekian satu-satunya mediator yang didengar  adalah ulama. Jika ketiga lembaga (MUNA, HUDA dan MPU) tidak segera ambil alih maka tidak tertutup kemungkinan korban akan terus berjatuhan.

Walaupun hari H semakin dekat belum terlambat  memanggil sejumlah pihak dari berbagai partai untuk duduk semeja didampingi oleh ketiga lembaga di atas membahas apa saja yang menjanggal selama ini sehingga berujung kepada konflik yang berakibat kepada jatuhnya korban.

Apalagi sang mendiang pendiri HUDA, Abu Ibrahim Berdan (Abu di Panton) secara historis sudah pernah menjadi mediator antara GAM-RI pada masa konflik Aceh. Jadi, bukan hal pertama dan canggung jika ada kesalahpahaman antara ummat tempat kembali adalah para ulama para pewaris nabi.

Seruan FPI Untuk Memilih Partai Islam

Diakui atau tidak, Pemilu 2014 secara umum adalah pertarungan antara partai Islam versus partai nasionalis atau sosialis. Jika ummat Islam  gagal mengirim wakilnya yang amanah yang duduk dalam partai berazaskan Islam. Maka, tidak tertutup kemungkinan sejarah sekulerisasi di Turki yang dipelopori oleh Mustafa Kemal Ataturk akan terulang di Indonesia.

Kendati demikian, FPI  juga merekomendasikan caleg yang jujur, amanah dan berkomitmen menegakkan syariat Islam baik di Aceh dan maupun  di tingkat Nasional. Sekalipun diusung oleh Partai bukan berbasis Islam, mohon  diberikan dukungan sepenuhnya. Intinya, yang dipilih adalah caleg yang pro syariat bukan yang anti syariat.