Para Dokter Di Aceh Barat Daya Gelar Doa Bersama

oleh
Pegawai RSUD Meuraxa Desak Copot Direkturnya
Para Dokter Di Aceh Barat Daya Gelar Doa Bersama
Para Dokter Di Aceh Barat Daya Gelar Doa Bersama

BLANGPIDIE | DiliputNews.com – Adanya kriminalisasi yang dilakukan oleh Mahkamah Agung (MA) ,18 November 2013 lalu, terhadap tiga dokter kandungan di Manado,Sulawesi Utara, yaitu dr Dewa Ayu Sasiary Prawani SpOG, dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian, mendapat reaksi dari para dokter yang bertugas di Aceh Barat Daya.

Untuk menunjukan rasa prihatin mereka atas penolakan kriminalisasi terhadap tiga dokter itu, para dokter yang tergabung dalam PB-IDI Abdya itu pun melakukan aksi doa bersama, Rabu,(27/11), di RSUD Teuku Peukan Abdya.

Ketua PB-IDI Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dr. Suherdi yang akrab dipanggil dokter Edo meminta agar IDI lebih proaktif menyikapi rencana aksi mogok dokter kandungan yang berlangsung Kamis 27 November diseluruh Indonesia itu.

“Kita tidak melakukan aksi mogok seperti daerah lain, pelayanan tetap kita jalankan, cuma diwaktu jam istiriahat siang nanti, kita hanya melakukan do’a bersama sebagai bentuk solidaritas para dokter terkait perkara hukum yang menimpa tiga dokter kandungan dimaksud,” ungkap dokter Edo.

Sebagai organisasi yang menaungi profesi dokter, kata Edo, bentuk dukungan terhadap tiga dokter itu tetap dilaksanakan, meskipun tanpa ada aksi mogok. “Kita hanya bisa berharap agar ketiga dokter itu dapat diberikan kemudahan dalam proses hukum, semoga saja kebenaran akan berpihak kepada mereka” tuturnya.

Lebih lanjut, Edo juga sudah memberitahukan untuk seluruh anggota IDI yang ada di Abdya, sepaya melakukan do’a bersama pada jam istirahat nanti. “Kita sudah beritahukan kepada seluruh dokter di Abdya supaya dalam mendukung aksi solidaritas ini, untuk  menggelar do’a bersama di RSUD Teuku Peukan Abdya pada siang nanti,” singkatnya.

Amatan DiliputNews.com, pelayanan disejumlah Puskesmas dalam Kabupaten Abdya, tetap berjalan sebagaimana mestinya,  dr. Heri Fahkrizal yang dijumpai DiliputNews.com, ketika sedang bertugas di Puskesmas Manggeng,  tetap memberikan pelayan  24 jam kepada pasien ditempatnya bertugas, meskipun dirinya sudah mengetahui tentang aksi mogok dekter se-Indonesia itu. “Aksi solidaritas tetap kita dukung, namun tugas melayani pasien tetap kita jalankan juga,” demikian sebutnya.

Berdasarkan penulusuran DiliputNews.com,di situs kelanakota.suarasurabaya.net,  peristiwa bermula  pada tanggal 10 April 2010 pukul 22.00 WITA tim dokter melakukan operasi “Cito Secsio Sesario” (persalinan dengan tindakan sesar secara darurat) terhadap pasien, padahal pukul 18.00 WITA setelah diperiksa masih belum melahirkan secara normal.

Dalam operasi tersebut tidak harus dilakukan pemeriksaan pendukung karena bersifat darurat, cepat, dan segera sehingga tidak diperlukan persetujuan pasien atau keluarga. Bila tidak dilakukan operasi, bayi kemungkinan besar meninggal dunia.

Setelah operasi itu dilakukan, maka bayi lahir dengan selamat. Akan tetapi, beberapa saat pasien mengalami komplikasi dan akhirnya meninggal dunia.

Kaligis mengatakan bahwa orang tua korban melakukan tindakan hukum dan Dewa Ayu disidang di PN Manado dengan dakwaan dugaan malapraktik.

Kemudian, hakim PN Manado mengeluarkan putusan No.90/PID.B/2011/PN.MDO menyatakan bahwa Dewa Ayu Sasiary Prawani dengan hukuman bebas. Maka, jaksa melakukan kasasi.

Dokter Dewa Ayu dijebloskan ke tahanan berdasarkan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap oleh Mahkamah Agung, Nomor 365.K/Pid/2012 tertanggal 18 September 2012. (Red/Zal)