Banda Aceh Canangkan Wadah Penyelamat Manuskrip Aceh

oleh
Ketua DPRK Banda Aceh, Yudi Kurnia Temu Ramah Dengan Penulis, Seniman, Dan Budayawan Aceh di Cafe Canai Mamak, Silaturrahmi Tersebut Turut Membicarakan Tentang Perkembangan Seni, Budaya dan Manuskrip Aceh di Banda Aceh Senin,(24/6).
Ketua DPRK Banda Aceh, Yudi Kurnia Temu Ramah Dengan Penulis, Seniman, Dan Budayawan Aceh di Cafe Canai Mamak, Silaturrahmi Tersebut Turut Membicarakan Tentang Perkembangan Seni, Budaya dan Manuskrip Aceh di Banda Aceh Senin,(24/6).

BANDA ACEH | DiliputNews.com – Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, sedang mencanangkan satu wadah untuk menyelamatkan Manuskrip Kuno Aceh, dan tentang situs situs bersejarah di Banda Aceh.

“Aceh khusunya Banda Aceh memiliki ribuan Manuskrip Kuno, mulai dari kitab-kitab keagamaan sampai ke sejarah karya para ulama/intelektuan Aceh tempo dulu,” ungkap ketua DPRK Banda Aceh, Yudi Kurnia, di acara temu tamah dengan para seniman di Banda Aceh, Senin (24/6).

Menurut Yudi Kurnia, untuk menyelamatkan manuskrip tersebut perlu dukungan semua pihak, dimana Pemerintah Banda Aceh sejauh ini telah mengembangkan tentang Seni dan Kebudayaan Aceh.

Kata Yudi bahwa pihaknya seudah membicarakan hal tersebut dengan Kolketor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid. Seperti pengakuan Tarmizi ada puluhan ribu manuskrip Aceh yang harus di selamatkan dan ini penting untuk masa depan sejarah Aceh.

“Ini perlu ditangani serius, apalagi sejumlah negara negara luar menjadikan itu semua sebagai pedoman ketatapemerintahannya. kedepan bila tidak ada halangan Banda Aceh akan membuat sebuah wadah penyelamat terhadap manuskrip manuskrip Aceh tersebut.” katanya.

Kolketor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid mengaku bahwa hal tersebut penting sekali untuk marwah Aceh, sebelum dimamfaatkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab nantinya.

“Sebab sejumlah negara bahkan sudah membuat perpustakaan manuskrip, adapun negara yang paling banyak mengumpulkan manuskrip Aceh adalah Belanda, Malaysia, Brunai Darussalam dan masih banyak negara lainya,” jelasnya.

Selain itu kata Tarmizi, di Banda Aceh masih banyak bukti bukti sejarah yang perlu diselamatkan sebagai warisan untuk generasi Aceh masa yang akan datang. “Ketika pemerintah punya suatu masalah maka dengan manuskrip pemerintah bisa belajar untuk menyelesaikan masalah tersebut,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan, Selama ini sejumlah orang dari negara luar sering datang ke Aceh untuk mencari manuskrip manuskrip kuno di Aceh untuk dibawa pulang ke negaranya. “Karena negara luar tersebut mengakui manuskrip kuno Aceh penting dan sangat berharga,” katanya menambahkan.

Tarmizi berharap kepada DPRK Banda Aceh dan DPRA untuk memproritaskan penyelamatan benda benda sejarah minimal dimulai dari Banda Aceh sebagai pilot projek untuk daerah lain.

“Mungkin dewan bisa memanggil seluruh dinas maupun SKPD yang terkait untuk mempertanyakan tentang sejarah di Banda Aceh, bila ini sudah ditata dan mampu diselematkan maka kedepan sejarah Aceh akan kokoh sampai tanpa batas waktu,” harapnya.