Muzakir Menilai Perempuan Aceh Alami Diskriminasi

oleh
Partai Aceh (PA) Miliki Masyarakat
Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf
Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf

BANDA ACEH | DiliputNews.com – Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf menilai kaum perempuan di daerahnya masih mengalami diskriminasi terutama di pentas politik.

“Meski kita memiliki sejumlah regulasi yang memberi perlindungan kepada perempuan, tapi diskriminasi terhadap kaum hawa itu masih ada,” katanya di Banda Aceh, Kamis (20/6).

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten II Sekda Aceh Teuku Said Mustafa pada deklarasi dan pelantikan pengurus Laskar “Tjuk Nyak Dhien”, ia mengatakan kedepan tidak ada lagi diskriminasi terhadap kaum perempuan Aceh Sebagai contoh, dijelaskan diskriminasi itu dapat dilihat dari keterwakilan perempuan Aceh di parlemen saat ini.

Di DPRA misalnya dari sebanyak 69 anggota legislatif hanya empat orang perempuan. Sedangkan legislatif DPRK di 23 kabupaten dan tercatat 45 kursi keterwakilan perempuan dari total sebanyak 645 kursi yang tersedia.

“Hanya 6,8 persen keterwakilan perempuan dari seharusnya 30 persen kursi perempuan di DPRK di seluruh Aceh,” kata Wagub menambahkan.

Namun, Muzakir Manaf menyebutkan empat faktor yang membuat perempuan Aceh kurang berperan dalam pembanguan di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.

Pertama, adanya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat dan partisipasi dalam pembangunan serta penguasaan terhadap sumber daya, terutama pada tatanan antar provinsi dan antar kabupaten/kota.

Kedua, Wagub menyebutkan rendahnya peran dan partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan publik dan bidang ekonomi.

Selanjutnya ketiga yakni rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim, krisis ekonomi, bencana alam, konflik dan terjadinya penyakit.

Faktor keempat yang membuat perempuan Aceh kurang berperan dalam pembangunan karena ketidakpedulian kaum hawa terhadap peningkatan kapasitas.

“Semua hambatan itu selayaknya kita hilangkan, sebab di era modern sudah tidak zamannya perempuan diidentikkan dengan sumur, dapur dan kasur,” kata Muzakir Manaf.

Karenanya, dibutuhkan peran aktif tokoh perempuan Aceh yang mampu meruntuhkan hambatan tersebut. [Red/Ant]