Program Padat Karya di Nagan Raya Terindikasi Penyimpangan

oleh
Program Padat Karya Terindikasi Penyimpangan
Program Padat Karya  Terindikasi Penyimpangan
Program Padat Karya Terindikasi Penyimpangan

NAGAN RAYA | DiliputNews.com – Pelaksanaan program padat karya di Desa Jokja, Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya terindikasi adanya penyimpangan terhadap pengelolaan anggaran.

“Berdasarkan fakta dilapangan terindikasi penyimpangan terhadap laju program padat karya yang sedang berjalan, seperti pengelolaan anggarannya,” ungkap Ketua Kelompok Suyitno PJOK Keuchik Desa Jokja Sendiri Aliriadi, kepada DiliputNews.com, Selasa (11/6).

Program Padat Karya, merupakan salah satu program yang diluncurkan oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrans) Kabupaten Nagan Raya yang bergerak dibidang pemberdayaan terhadap daerah yang perlu mendapatkan sentuhan.

Selain itu, program Padat Karya Produktif sangat efektif dalam menyerap tenaga kerja penganggur maupun setengah penganggur dalam jumlah yang relatif banyak dengan membangun sarana produktif yang dapat memberikan manfaat peningkatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Kata Aliriad, Sumberdana untuk perogram tersebut berasal dari Dinas Sosial Tenagan Kerja (Dinsosnaker). Indikasi penyimpangannya yaitu dengan modus manipulasi data. Dari data Hak Orang Kerja (HOK) 50 orang, hanya 40 orang yang mengerjakan.

“Dan hal itu menurut anggota tuha peut yang tidak ingin namanya disebut, tentu adalah penyimpang,” katanya.

Diceritakannya, menurut laporan, setiap orang atau satu orang dibayar sebesar Rp 55. 000,- , Berarti, dari yang seharusnya 50 orang dan hanya dikerjakan 40 orang telah terjadi pemalsuan 10 orang.

“Dari angka Rp 55.000- di kali sepuluh orang Rp 550.000,- fiktif terhitung kerugian. Kuat diduga sejumlah uang tersebut masuk pada sejumlah pengurus,” pungkasnya.

Menurut ketentuan pengerjaan akan dilakukan selama 40 hari. Berarti, Rp 5500.000,- orang peserta yang fiktif tadi dikali 40 hari hasilnya Rp 22.000.000,- yang terjadi indikasi penyimpangan dalam pelaksanaan program Padat Karya Desa Jokja.

“Program pengerjaan padat karya itu sendiri, pemadatan jalan desa, dan pembuatan gorong-gorong,” ujarnya (11/6).

Sebelum program tersebut dujalankan, diakuinya sama sekali tidak pernah dilakukan musayawarah bersama. Selain itu, para panitia juga diakuinya tidak trasparan dalam penggunaan anggran yang disalurkan Disnaker itu.