Polwan Aceh Senang Jika Diizinkan Berjilbab

oleh
Kapolri Perbolehkan Polwan Pakai Jilbab
Polwan Aceh Senang Jika Diizinkan Berjilbab
Polwan Aceh Senang Jika Diizinkan Berjilbab

JAKARTA | DiliputNews.com –  Sejumlah polisi wanita (polwan) mengutarakan kegembiraannya jika polri mengizinkan mereka mengenakan jilbab saat bertugas.

Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Metro Jakarta Timur, Ajun Komisaris Dian Tin Agustina misalnya. Ia mengaku sangat senang jika polwan diizinkan mengenakan seragam polisi dengan berjilbab.

“Ya pasti dong (senang). Tentu kita akan sangat senang. Bukan hanya saya,” ujar Ajun Komisaris Diah, Kamis (6/6).

Namun, Agustina berpendapat, peraturan kapolri (perkap) dibuat dengan pertimbangan yang sangat matang, jadi tidak mungkin sebuah peraturan dibuat seenaknya. Menurutnya, perkap yang menyebutkan tentang aturan pengenaan jilbab bagi polwan saat bertugas itu, sangat bijaksana.

“Buktinya, untuk daerah tertentu seperti Daerah Istimewa Aceh, boleh. Jadi, perkap bukan tanpa pertimbangan,” ucapnya.

Selain itu, kata Dian, peraturan itu tentu tidak diputuskan sebelah pihak. Sebab, seluruh petinggi Polri tentu dilibatkan dalam menentukan aturan tersebut.

Memang, Dian mengakui Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Namun, bukan berarti pembentukan peraturan juga tidak menimbang dari sisi keagamaan.

“Sebab Indonesia kan adalah bangsa yang terdiri dari berbagai adat budaya juga agama. Ada pemimpin yang beragama Islam, Budha, Hindu, dan sebagainya. Jadi, pasti sudah dipertimbangkan masak-masak,” katanya. Ia pun meyakini, sebuah peraturan tentu dibuat untuk suatu kebaikan.

Respon positif juga datang dari seorang polwan yang bertugas di bagian Intel Polres Jaktim. Polwan yang enggan menyebutkan identitasnya ini mengaku sangat senang jika di lapangan polwan diperbolehkan mengenakan hijab. Apalagi di luar jam tugas ia selalu mengenakan jilbab.

Namun, ia tidak keberatan dengan perkap tersebut. “Saya sih belum pernah ya mendengar Perkap yang dimaksud itu. Tapi, jujur, saya senang jika ternyata polwan diperbolehkan (berjilbab). Tetapi juga, saat ini, hal itu tidak menjadi masalah,” akunya.

Polwan yang sudah bergabung di kepolisian sejak 1986 ini mengatakan, kemungkinan besar pertanyaan seperti ini diajukan kepada polwan yang sehari-hari bertugas memang mengenakan seragam. Sebab, hingga kini, ia belum menemukan kendala tidak boleh mengenakan jilbab saat bertugas. “Saat saya bertugas sehari-hari kan, berpakaian preman,” ujarnya.

Namun, polwan yang telah mengenakan hijab sejak 2007 silam itu sangat menyambut baik, apabila perkap yang disebutkan, mengizinkan polwan yang beragama Islam dapat berhijab. “Ih, ya iya. Tentu saya senang sekali. Yang lain (polwan) saya rasa juga demikian,” katanya.