Tiga Desa Duduki Lahan HGU SPS 1 Di Nagan Raya

oleh
Warga Duduki PT SPS di Nagan Raya
Warga Duduki PT SPS di Nagan Raya
Warga Duduki PT SPS di Nagan Raya

NAGAN RAYA | DiliputNews.com – Meski PT Surya Panen Subur (SPS) 1 memiliki segudang program, namun sengketa lahan Hak Guna Usaha (HGU) sampai saat ini belum kunjung selesaikan oleh pihak manajemen PT SPS 1 dengan warga.

Dari tiga Desa, yakni Desa Babah Rot, Blaman Tadu dan Gunong Pungki, Kamis (18/4) melakukan aksi menduduki lahan yang digarap oleh perusahaan kelapa sawit tersebut.

Pantuan DiliputNews.com, warga sempat mendirikan posko perkemahan tiga titik tepatnya dilokasi sengketa, bahkan warga juga membawa alat dapur untuk memasak dilahan tersebut.

Warga, T Ansry Ahmad mengatakan, sengketa lahan ini semenjak perusahan Woyla Raya Abdi pada tahun 1988 dan di jual ke PT Astra, lalu lahan dijual lagi kepada saham Amara yang di kelola oleh pihak perusahan Surya Panen Subur sampai tahun ini belum juga di bayar hak penayah masyrakat.

“Sudah 6 tahun yang lalu kami sudah melakukan protes terhadap perusahan PT Astra kemudian pihak Astra menjual sahamnya kepada Amara, namun hingga kini belum juga ada titik penyelesaian, dengan  hal itu, kami terpaksa mendirikan posko darurat di area HGU perusahan  PT  SPS 1,” ungkapnya.

Padahal katanya, Pemerintah Daerah sudah menyurati kepada pihak perusahaan dengan nada tegas. Dengan isi surat “Kepada pihak perusahan yang belum menyelesaikan masalah dengan masyarakat  dengan sesuai ketentuan perundang-undangan, agar seluruh aktivitas terkena tanah garapan masyarakat agar di hentikan,” begitulah isi suratnya.

Lanjutnya, surat itu di keluarkan langsung oleh Bupati Nagan Raya T Zulkarnaini, tapi pihak perusahaan tetap saja mengejarkan tanah sengketa tersebut.

Sementara, Geucik Gunong Pungki Asary Syeh membenarkan adanya aksi di area HGU perusahaan PT SPS yang berjarak 1.5 KM dari pekantoran SPS, sebenanya sengketa ini sudah ke meja perundingan kantor Bupati pada tahun 2012, dan mengeluarkan rekom bersama yang berbunyi, pihak perusahan siap ganti penayah seluas 800 hektar dari tiga gampong tersebut.

“Tapi pihak perusahaan tidak tepat janji dengan masyarakat untuk memberikan ganti rugi penayah sebelum tahun baru,” tutur Geucik Gunong Pungki Asary Syeh.