DKA Aceh Barat Gelar Teater Tewasnya Teuku Umar

oleh
DKA Aceh Barat Gelar Teater  Tewasnya Teuku Umar
DKA Aceh Barat Gelar Teater Tewasnya Teuku Umar

MEULABOH | Diliputnews.com – Komunitas Theater Meulaboh, Sabtu (29/12) malam, menunjukan kebolehannya dalam pementasan Teater “Tewasnya Teuku Umar” yang digelar dalam rangka pelantikan Pengurus Dewan Kesenian Aceh Barat.

Berikut cuplikan peran Teater  Tewasnya Teuku Umar, Sutradara Kakek Bonimin, Sri Ayu Mentari berperan sebagai Cut Nyak Dhien, Dayang-dayang Maya, Devi, dll, Teuku Umar di perankan oleh Faisal, Pang Laot diperankan oleh T.Balizar, Pang Bintang diperan oleh Lemben dll, dari belanda Desrijal sebagai Letnan JJ Vanbreug, pasukannya Popon, Yudi, Jol Paroe, Z.Wazir Produser, T.Ahmad Dadek Konitas Theater Meulaboh.

Pergelaran teater Perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda dan mengusir pemerintah kolonial Belanda dari Tanah Rencong tersebut merupakan pertunjukan untuk mengingat kembali kepada masyarakat Aceh bagaimana dulunya seorang wanita mempertahan Bumi Serambi Mekkah dari jajahan Belanda.

Perjuangan Cut Nyak Dien itu semakin membuat pemerintah kolonial Belanda kewalahan menghadapinya. Taktik berperangnya memang begitu cerdik. Seorang perempuan yang begitu cerdas, berani, dan penuh kecintaan terhadap Bumi Pertiwi.

Komunitas Theater Meulaboh juga mengisahkan ketika Belanda menduduki tanah kelahirannya, beliau mengungsi dan berpisah dengan ayah dan suaminya. Perpisahan ini menjadi akhir pertemuan beliau dengan suami tercintanya. Teuku Ibrahim Lamnga, suaminya, gugur dalam pertempuran dengan Belanda di Gletarum, Juni 1878.

Sehingga Cut Nyak Dien tidak menerima penghinaan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda yang pada awalnya menyerang Aceh dan membinasakan tempat ibadah. Kemarahannya terhadap Belanda semakin menjadi saat suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur dalam perang.

Dari perjuangan tersebut Theater Meulaboh sempat memperagakan Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada 11 Februari 1899. Setelah suaminya Teuku Umar meninggal, Cut Nyak Dien meneruskan perjuangannya sendirian. Namun, ia tak gusar. Tak kalah mental meski ditinggal suami tercinta yang gugur di medan perang. Cut Nyak Dien terus melakukan gempuran terhadap markas-markas Belanda bersama para pengikutnya.

Cut Nyak Dien menjadi orang yang paling dicari oleh Belanda untuk dibunuh karena perjuangannya mengancam keberadaan dan kelangsungan pemerintah kolonial Belanda di bumi Serambi Mekkah. Namun, perjuangan Cut Nyak Dien dikhianati oleh anak buahnya, Pang Lot, yang memberi tahu Belanda tempat persembunyian Cut Nyak Dien.

Sementara itu Ketua Dewan Kesenian Aceh Barat Teuku Ahmad Dadek mengatakan kegiatan ini merupakan serangkain seni budaya untuk mengingat kembali sejarah-sejarah Aceh terutama Pahlawan daerah seperti Teuku Umar yang merupakan Putra Daerah Meulaboh.

Dikatakan Dadek untuk membangkitkan sejarah ini, Kesenian Aceh Barat bersama Theater Meulaboh akan melakukan praktek langsung ke lokasi dimana gugurnya Pahlawan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien.

“Kita akan melaksanakan pergelaran teater Tewasnya Teuku Umar dan Cut Nyak Dien Meulaboh langsung di lapangan, yang akan lakukan pada bulan Februari 2013 nanti,” kata Dadek.