PETA Larang Kapal PLTU Nagan Raya Bersandar di Meulaboh

oleh
Front Pembela Tanah Air (PETA) Kabupaten Aceh Barat
Front Pembela Tanah Air (PETA) Kabupaten Aceh Barat

MEULABOH | DiliputNews.com – Seratusan Front Pembela Tanah Air (PETA) Kabupaten Aceh Barat, Jum’at (28/12) sekitar pukul 10.00 WIB, melarang kapal tongkang material batubara milik PLTU bersandar ke pelabuhan Jetty Meulaboh.

Namun, saat gejolak seratusan anggota PETA melarang kapal tongkang bersandar, tiba-tiba muncul mobil operasional milik PT. Mifa Bersaudara, spontan saja anggota PETA emosi menerjang mobil tersebut dibagian pintu kiri, mobil tersebut bernomor polisi BA 8351 BJ.

Kapolres Aceh Barat AKBP Faisal Rivai SIK membenarkan kejadian tersebut, dikatakan Faisal Rivai pintu mobil operasional tambang milik PT. Mifa Bersaudara ditendang oleh anggota PETA yang sedang memuncak emosi, supirnya juga disuruh turun dengan paksa.

“ Hingga kini masih dalam permerikasaan ,” ungkap Polres Aceh Barat.

Sementara itu Ketua PETA Aceh Barat Amiruddin yang dihubungi melalui handphone menjelaskan Anggota PETA menganggap mobil PT. Mifa adalah milik PT. PLTU, rupanya milik perusahan tambang, jadi mereka salah sasaran saja.

Dikatakan Amir, saat melihat ada kapal tongkang mau bersandar ke pelabuhan Jetty Meulaboh, anak-anak PETA melarangnya, sebab dianggap tidak ada kontribusi bagi mereka.

“Sebelum ada kesepakatan bagi kami PETA, jangan coba-coba kapal batubara itu bersandar,” tambah amir Amiruddin.

PETA mengharapkan, Ormas yang berada di Aceh Barat dapat diberdayakan, karena, bilang Amir, mereka adalah orang lapar yang memerlukan perhatian perusahan-perusahan seperti PLTU Nagan Raya.

Sementara Kapal tongkang batubara yang ingin bersandar, membatalkan niatnya, dan kembali menjauh ke tengah laut dari sisi pelabuhan Jetti, Meulaboh.

Larangan yang dilakukan oleh anggota PETA tersebut, menurut informasi yang diterima Diliputnews.com, PLTU Suak Puntong Nagan Raya, tidak ada perhatian kesejateraan bagi organisasi masyarakat yang berada di Aceh Barat.