PT Nafasindo Mengakui Perusahaannya Milik Warga Malaysia

oleh
PT Nafasindo Mengakui Perusahaannya Milik Warga Malaysia

Aceh Singkil | Diliputnews –  Sengketa lahan yang terjadi di Aceh Singkil, antara warga dengan PT Nafasindo yang diduga selama ini menguasai lahan warga, ternayata benar perusahan tersebut berasal dari Malaysia.

Manager Agronomi PT Nafasindo Malik Rusydi menatakan Ubertraco dibeli Nafasindo pada 1 Oktober 1996. Pembelian itu, kata Malik, dilatarbelakangi permintaan Pemerintah Aceh kepada Malaysia dan Thailand untuk menanamkan modal di Aceh.

Kata Malik adanya kepemilikan saham warga Malaysia di perusahan tersebut, berdasakan surat persetujuan Menteri Dalam Negeri sebagai Ketua Badan Koordinasi Badan Penanaman Modal Dalam Negeri pada 27 September 1996.

Sebelum melakukan pembelian perusahan tersebut, beberapa pengusaha Malaysia dan Thailand bertemu pihak Indonesia, pada 1995.

Setelah pembelian Ubertraco dan beroperasi beberapa tahun, nama perusahaan, kata Malik, dialihkan namanya menjadi PT Nafasindo. “Ini berdasarkan akta notaris Yanti Slaiman Sihotang SH Nomor 100 tanggal 23 November 2007,” ujarnya.

Sebelum pembelian, kata dia, kantor Ubertraco berada di Jakarta. “Setelah peralihan saham dan nama dari Ubertraco menjadi Nafasindo kedudukan kantor perusahaan berpindah ke Medan, yang dipimpin seorang warga malaysia bernama Encik Mat Sobree bin Che Soh,” ujar Malik.

“Setelah pertemuan pada tahun 1995 akhirnya pihak Malaysia datang ke Indonesia dan melakukan perundingan untuk membeli PT Ubertraco,” ungkap Malik.

Nama Nafasindo berasal dari nama Nafas yang menurut Malik Rusdi sebuah perusahaan Malaysia. Penambahan “Indo”, kata Malik, karena perusahaan beroperasi di Indonesia.

Staf Humas Nafasindo, Amirwan, juga membenarkan bahwa saham perusahaan itu ditanamkan oleh warga dari Malaysia.

“Perusahaan Nafasindo milik beberapa warga Malaysia yang bentuknya seperti koperasi dengan kepemilikan lebih dari 80 ribu warga malaysia,” ungkap Amirwan.