Pesona Alam Beutong

oleh

Gunung itu menjulang tinggi ke anggkasa, hijau dedaunan pohon menari – nari di atas puncaknya seakan menyapu langit langit biru.

Serta aliran sungai di bawahnya meliuk – liuk bagaikan se ekor ular yang menjalar menyulusuri hamparan padang luas, Air bersih nan bening yang mengalir diantara celah bukit hutan yang dianugerahi surat keramat sebagai hutan lindung itu, memberi kesejukan bagi mereka yang bersentuhan dengan air di tempat tersebut, itulah pesona krung isep

Sugai yang membelah Gampong Pante Ara tersebut berada di wilayah Barat Aceh, kurang lebih 15 kilometer jarak tempuh dari Suka Makmur Ibukota Kabupaten Nagan Raya dan 10 KM dari Kota Jeuram.

Hampir setiap hari tempat tersebut di penuhi wisatawan local maupun wisatawan luar, aliran sugai yang masih perawan itu mengalir tepat dibawah jembatan yang menghubungkan antara Keude Ule jalan dengan pemukiman beutong ateh, dibawah jembatan itulah orang – orang berteduh dari sengatan mata hari, memanjakan diri dengan alam.

Disamping itu rangkang – rangkang berbahan kayu dan beratapkan daun rumbia berbejejeran di sepanjang aliran sugai tersebut, menjadi salah satu pilihan sebagai tempat singgasana peristirahatan setelah bermanja senda dengan kesejukan air.

Dari rangkang – rangkang itupula henbusan aroma kopi robusta menyebar keseluruh lubang hidung seakan aroma itu mencokok pengunjung untuk menikmati air pekat hitam yang telah bercampur ampas kopi, meng hangatkan badan setelah bermandian.

Sore itu matahari sudah mulai melangkah pelan menunju pintu peraduan, walau cahaya sedikit terhalang awan namun masih tampak indah di seberang laut barat sana, beberapa pria bergegas meng starter kereta Yamaha Mio menaiki bukit singgah mata, setelah menegak kopi sedukan kak Rohana minggu (27/05/2012).

Hanyak menaiki tajakan lebih kurang satu kilo meter kita sudah mengapai Jambo Bengkuang yaitu puncak gunung singgah mata, bangunan tersebut terletak berada di antara pemukiman Ule Jalan dengan pemukiman Beutong Ateh.

Banguna yang berukuran 4 x 4 berbahan kayu dan semen yang beratapkan seng itu merupakan tempat peristirahantan bagi warga yang melewati daerah tersebut.

Bangunan yang sudah tertata rapi serta corak dindinng yang di poles cat biru muda itu sebagai tempat persinggahan sementara untuk memanjakan mata,bagi mereka yang sedang melakukan perjalan ke Takengon maupun sebaliknya, di tempat itu tidak sulit mendapatkan permandangan alam hijau Kebupaten Nagan Raya yang membentang luas dari bujur barat sampai bujur selatan.

Pesona singasana singgahmata yang menyebar keindahan alam di tambah dua sejoli aliran sungai besar yang berkelok – kelok menyulusuri bentangan persawahan hijau menjulur jauh sampai ke tepi laut kuala tuhan, yang memberi kenangan tersendiri bagi mereka penikmat wisata alam.

Dari kejauhan terlihat Kebun sawit yang hijau jauh membentang di sepanjang wilayah pesisir laut samudra hindia, di tengah – tengah itupula mengepul asap tebal pabrik kelapa sawit soffindo menjulur ke anggkasa bagaikan kapal uap dalam lautan yang sedang mengarungi samudra.

Kerumunan awan – awan kecik menjilat – jilat pucuk hutan perawan meranti, dari beranda jambo bengkuang di puncak singgah mata hamparan kemuning padi terlihat di bukit cout jawi serta bangunan pusat kota meulaboh berdiri kukuh di kejauhan menadah langit seakan menunjuk akhir segala alir, yang tak henti menyimpan gairah bagi pancaran mata.

Tapi sangat disayangakan, jalan menuju kesana sering menjadi amukan longsor, terkikis air saat musim hujan tiba, akibat banyak nya lubang serta berbatuan mehambat para pengguna jalan itu, jalan urat nadi yang menghubungkan antara Kabu Paten Nagan Raya Dan Aceh Tengah Itu seakan luput dari penglihatan pemerintah setempat.

Padahal tempat tersebut berpotensi besar bagi sektor pariwisata serta meninggkatkan perekonomian warga dengan memasokkan sayur – sayuran dari kota takengon.

Malam di ambang petang lembayung mulai memuncratkan warna ke emasan keseluru penjuru anggakasa tamparan lembut hawa dingin mulai terasa, sebentar lagi mata hari lenyap di telan bumi. Kami pun turun di keleluasan senja mengakhiri cerita di jambo bengkuang.

Penulis : T.Hendra Keumala Alamsyah