Hujan Terus Menerus Hambat Proses Panen Padi Di Abdya

19
Hujan Terus Menerus Hambat Proses Panen Padi Di Abdya

BLANGPIDIE,DILIPUTNEWS.COM – Hujan dalam beberapa pekan terakhir yang mengguyur wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) membuat petani padi menjadi kewalahan. Pasalnya, guyuran hujan mulai dari intensitas rendah, sedang dan tinggi mengakibatkan proses memanen padi menjadi terhambat. Selain itu, kondisi gabah juga akan menurun jika tidak dikeringkan usai dipanen. Baik menggunakan mesin pemotong padi maupun yang dipanen secara manual.

Ismail petani Kecamatan Susoh, Selasa (6/11) mengatakan, mesin pemotong padi yang telah berada dalam areal persawahan tidak bisa bekerja secara optimal saat memanen. Karena kondisi padi basah, sehingga mengganggu proses panen. Selain itu, petani yang memilih memanen padi dengan cara manual juga tidak bekerja, karena kondisi Abdya sering diguyur hujan.

Harusnya padi yang baru selesai dipotong dengan menggunakan mesin pemotong padi dapat segera dikeringkan agar menghasilkan gabah dengan kualitas yang baik dan tahan lama. Namun, dikarenakan guyuran hujan yang tidak menentu melanda wilayah Abdya, membuat proses pengeringan padi pasca panen tidak optimal.

Begitu juga halnya dengan kondisi padi yang dipotong secara manual. Usai dilakukan pemotongan, sebelum melalui proses perontokan menggunakan mesin perontok, padi telah mulai basah oleh hujan. Akibatnya, para petani harus menunggu berhari-hari hingga padi kering dan bisa dilakukan perontokan dari jerami.

“Meskipun kualitas gabah di Abdya sangat menjanjikan, namun kondisinya tidak kering tentu saja akan merusak kualitas,” paparnya.

Safar petani di Kecamatan Tangan-Tangan mengatakan, dia dan beberapa petani lainnya sangat mengkhawatirkan jika hujan terus menerus melanda Abdya, tentu proses pengeringan gabah tidak bisa dilakukan. Banyak juga diantara petani yang telah memanen padi langsung menjualnya kepada agen pengepul dengan kondisi belum kering.

Sementara untuk gabah yang sengaja disimpan sebagai persediaan hingga musim panen mendatang, tentu harus dikeringkan dengan baik, agar mampu bertahan kualitasnya termasuk cita rasanya tetap terjaga.

“Gabah dengan kondisi kandungan air masih tinggi tidak akan bertahan lama jika disimpan. Kualitasnya akan menurun, seperti berubah menjadi hitam, berjamur serta berasnya akan patah dan berbau,” terangnya.

Upaya yang dilakukan pihaknya saat ini hanya menjaga kondisi suhu gabah agar tidak panas dalam karung. Kebanyak petani menempatkan gabah di tempat terbuka dan tidak lembab, sambil menunggu cuaca normal kembali.

Sementara itu, meski telah memasuki pertengahan musim panen padi di Abdya. Harga gabah di tingkat agen pengepul masih tetap stabil. Dimana harga gabah saat ini berkisar antara Rp.4.700-4.800 per kg. Kondisi tersebut membuat petani bisa bernafas legah, sebab hasil dari penjualan gabah masih dapat disisihkan untuk biaya pengarapan lahan musim tanam selanjutnya.

“Harga saat ini masih stabil, semoga saja harga tersebut tidak berubah hingga penghujung musim panen ini,” harapnya. (Putra)