Harga TBS di Abdya Masih Rendah

35
Harga TBS di Abdya Masih Rendah / Ilustrasi

BLANGPIDIE, DILIPUTNEWS.COM – Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) masih terbilang rendah. Saat ini harga komoditi perkebunan andalan masyarakat Abdya itu hanya sekitar Rp. 700-900 per kg. Dulu harga komoditi perkebunan ini sangat menggembirakan petani setempat dengan harga mencapai Rp.1400-Rp.1500 per kg.

Jamal petani sawit Kecamatan Kuala Batee, Kamis (25/10) mengatakan, pasca rendahnya harga sawit, banyak petani yang mengeluh lantaran keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan sawit belum mampu menutupi semua biaya yang dikeluarkan petani.

Dia mengaku resah dengan rendahnya harga sawit ditingkat petani dan agen pengepul. Menurutnya, turunnya harga itu telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir yang membuat para petani menjadi serba salah. Kalau tidak dipanen, maka kualitasnya dikhawatirkan akan menurun dan jika dipaksakan para petani akan mengalami kerugian.

Rendahnya kondisi harga TBS sawit ini bukanlah hal yang pertama dirasakan oleh kalangan petani sawit Abdya. Terpuruknya harga tersebut memang telah menjadi hal yang lumrah.

“Kondisi tersebut jelas tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan para petani untuk perawatan dan pemeliharaan tanaman. Sebab, tidak sedikit biaya yang dikucurkan para petani guna menghasilkan TBS sawit yang berkualitas, mulai dari pembersihan, perawatan, pemupukan, pemangkasan dan memanen. Namun setelah upaya itu selesai dan memasuki masa panen, petani malah dirugikan dengan harga sawit yang tidak menentu,” ujarnya.

Dengan harga TBS sawit seperti sekarang ini, maka petani tidak mendapat apa-apa dari hasil jerih payahnya. Sebab, pendapatan dari hasil panen habis untuk biaya perawatan kebun.

Ditambahkan, tanaman sawit kalau tidak diberi pupuk yang cukup dan dibersihkan, akan menyebabkan penurunan angka produksi, sementara untuk perawatan kebun, petani tidak memiliki dana yang cukup karena harga TBS anjlok.

Selain itu, penurunan harga sawit yang drastis ini perlu menjadi perhatian semua pihak. Apakah memang harga sawit turun secara global atau ada permainan oknum yang berkepentingan, termasuk yang mengelola Tempat Penimbangan Harian (TPH). Dia yakin, keluhan petani sawit tidak hanya dirasakan masyarakat Abdya saja, namuna juga terjadi di wilayah lainnya.

Selain itu, penjualan sawit akibat belum adanya pabrik kelapa sawit juga menjadi alasan tersendiri. Dimana para agen pengepul usai menampung semua hasil panen di Abdya, pihaknya akan membawa TBS sawit tersebut ke daerah lain yang memiliki pabrik seperti Nagan Raya, tentu dengan keuntungan yang telah ditentukan. Persoalan inilah yang kerap dirasakan oleh para petani sawit di Abdya yang hingga saat ini belum terpecahkan.(Red/Putra)