Dewan Juri Lomba Foto Aceh Barat Tak Persoalkan Langgar Persyaratan

329
Wisata Pantai Ujung Karang Dari Udara, Foto di Abadikan Oleh Asep Jajang Nurjaya, Salah Seorang Peserta Lomba Foto Aceh Barat 2018.

MEULABOH, DILIPUTNEWS.COM – Dewan juri lomba foto Wisata Aceh Barat 2018 tidak mempersoalkan adanya pelanggaran dalam persyaratan yang telah ditetapkan panitia lomba kontes foto tersebut. Meski pasca diumumkan pemenang lomba foto para peserta melayangkan protes lewat Instagram Panitia.

Tidak adanya persoalan, adanya pelanggaran sesuai persyaratan yang ditentukan oleh panitia lomba, diungkapkan oleh Wahyu Andika, yang merupakan salah seorang dewan juri pada lomba foto itu.

“Adapun persyaratan salah satu pemenang yang di anggap melanggar tersebut. Masih bisa di maafkan karena setiap perlombaan syaratnya pasti dibuat dangan kesadaran,” kata Wahyu Andika, kepada DiliputNews.com, Minggu (30/9/2018).

Wahyu berdalih, dalam lomba foto tersebut hal-hal yang dianggap fatal dan menjadi persoalan sehingga tidak bisa dimaafkan seperti foto peserta yang diunggahnya dengan mengusung konsep anak-anak yang mengaji dihalaman Masjid Agung Baitul Makkmur Meulaboh.

Menurutnya, konsep yang seperti itu menjadi cacatan poin persoalan lantaran dianggap tidak etis karena membaca Alquran dihalaman mesjid dengan posisi langsung dilantai, lantaran menurutnya dalam membaca Alquran ada tempat yang layak.

Baca:Hasil Lomba Foto Wisata Aceh Barat Menuai Protes

Kata dia lagi, secara kapasitas dewan juri dalam mengambil keputusan dengan memilih foto terbaik sesuai dengan capain Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda Dan Olahraga (Disparbudpora) Aceh Barat, dengan tidak menghilangkan unsur fotografi didalamnya.

“Disini juri melihat point yang paling disasar oleh panitia yaitu foto dengan aspek fotografi estetika, dan daya tarik. Sebenarnya, banyak pertimbangan dari masing-masing juri untuk mengambil keputusan, karena juri dan panitia begitu sadar akan apa pengaruh foto yang akan di publikasi nantinya,” ucapnya.

Sementara adanya protes peserta keputusan dewan juri memenangkan foto tentang buah rumbia kata dia, lantaran secara definisi wisata tidak hanya berbicara menyangkut suatu objek berupa tempat atau lokasi wisata saja namun kuliner juga masuk dalam kaategori wisata.

Rumbia sendiri, ucap Wahyu, juga merupakan salah satu kuliner khas Aceh Barat yang selama ini menghilang dari peredaran. Padahal kuliner yang dikenal dengan nama salak Aceh ini sebelum tsunami menjadi oleh-oleh yang diburu oleh wisatawan luar acap kali berkunjung ke bumi Teuku Umar.

“Kenapa ada foto buah rumbia menjadi salah satu pemenang, seharusnya peserta lomba paham dulu arti dari kata Wisata, di sini tema foto yang diselenggarakan tidak hanya lokasi saja. Wisata meliputi Wisata Alam, Wisata Bahari, Wisata Kuliner dan Wisata lainya, jadi rumbia itu wisata kuliner,” tutupnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Pelaksanaan Lomba Foto Wisata Kabupaten Aceh Barat, yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda Dan Olah Raga (Disparbudpora) setempat menuai sejumlah protes dari netizen.

Pasalnya foto pemenang hasil keputusan dewan juri lomba tersebut, tidak mengikuti syarat perlombaan foto yang telah di buat panitia.

Protes tersebut disampaikan langsung oleh para netizen, di akun instagram milik panitia Lomba Foto Aceh Barat 2018. Protes para netizen ini terutama yang menjadi peserta kontes.

Adapun keganjilan yang diungkap oleh netizen dalam pemilihan foto terbaik seperti tidak mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan oleh panitia namun malah menjadi pemenang.(Red)