Sendratari Perjuangan Pocut Baren Aceh Barat “Hipnotis” Ribuan Pengunjung

203
Sendratari Perjuangan Pocut Baren Aceh Barat

DILIPUTNEWS.COM, BANDA ACEH -Penampilan sendratari perjuangan Pocut Baren di ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 7 di Auditorium Taman Budaya Banda Aceh, Minggu (12/08/2018) malam benar-benar memukau penonton yang hadir.

Pagelaran seni budaya yang ditampilkan seniman asal Aceh Barat ini membuay pertunjukan budaya mampu ‘menghipnotis’ pengunjung yang hadir.

Belum lagi penataan cahaya lampu dan properti yang menarik, menjadikan pertunjukan seni yang dibawakan kontingen Aceh Barat pada ajang PKA 7 ini benar-benar luar biasa.

Tak salah jika penonton yang memadati bangku-bangku di Auditorium Taman Budaya Banda Aceh mengapresiasi dengan tepuk tangan yang panjang saat pergelaran berakhir.

Tari perjuangan Pocut Baren yang dibawakan puluhan remaja putri tampil rancak sebagai pembuka pertunjukan sendratari perjuangan Pocut Baren, berupa gerak lincah kaki dan tangan serta sabetan rencong selalu harmonis dengan pukulan rapa’i dan serune kale diiringi dengan musik tradisional Aceh Barat.

Tak heran bila tampilan pembuka yang begitu apik tersebut mendapatkan tepuk tangan yang luar biasa dari penonton.

Sutradara Sendratari Perjuangan Pocut Baren Ardinal Hidayat S Pd atau yang biasa disapa Cek Nal mengatakan pihaknya telah menampilkan pertunjukan yang terbaik sesuai dengan kriteria dewan juri inginkan.

“Alhamdulillah penampilan kita sudah memenuhi kriteria dewan juri, tetapi hasilnya tergantung dewan juri yang menilai, kita sudah menampilkan yang terbaik” ujar Cek Nal.

Ia menambahkan, dengan waktu tiga jam yang diberikan mulai dari dekorasi, gladi, hingga penampilan, kontingen Aceh Barat berhasil menyelesaikan tugas sesuai yang diinginkan oleh dewan juri.

“Dalam ajang PKA 7 ini kami menargetkan juara pertama, dan apabila itu terwujud dapat menjadi kado yang istimewa dan membanggakan sekali bagi kontingen Aceh Barat pada ajang PKA 7 ini” ujarnya.

Sendratari Perjuangan Pocut Baren ini menceritakan perjuangan seorang pahlawan dan ulama wanita dari Aceh Barat yang terkenal gigih melawan penjajahan Belanda.

Pocut Baren merupakan anak perempuan seorang uleebalang Teuku Cut Anmat Tungkop sebuah kemukiman di Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.

Ia lahir pada tahun 1880 di Kabupaten Aceh Barat.

Akibat serangan gencar Belanda, Pocut Baren pernah terdesak ke pedalaman hutan dan memutuskan bermarkas di sebuah gua di Gunong Mancang.

Akhirnya Belanda berhasil melacak gua tersebut, dan Pocut Baren bersama pengikutnya diserang habis-habisan.

Banyak korban jiwa yang jatuh karena penyerangan tersebut, Pocut Baren sendiri terkena peluru di kakinya sehingga perlawanannya terpaksa berhenti.

Ia lalu ditahan di Kutaraja, namun pengikutnya tetap melakukan perlawanan.

Kakinya yang tertembak tidak menerima perawatan yang cukup, lalu membusuk dan harus diamputasi.

Setelah Pocut Baren dinyatakan sembuh dari sakitnya dan diyakini oleh Belanda tidak akan melakukan perlawanan lagi, maka ia dikembalikan ke kampung halamannya di Tungkop sebagai seorang uleebalang.

Namun perlawanan Pocut Baren tidaklah berhenti sampai disitu saja. Walau ia tidak dapat berperang langsung namun jiwa panglimanya terus berkobar. Dia terus menyemangati para anak buahnya.

Melalui syair dan pantun dia menyemangati para pengikutnya agar tetap bersemangat melakukan perlawanan terhadap kaphe Belanda.

Pantun-pantunnya yang popular dan mengesankan itu masih terus diingat sampai saatini, salah satu penggalan pantunnya yang sangat popular yaitu “Ie Krueng Woyla ceuko likat, eungkot jilumpat jisangka ie tuba, seungap di yub, sengap di rambat, meuruboh barat buka suara, bukon sayang itek di kapai, jitimoh bulee ka sion sapeue, bukon sayang biliek kutinggai teumpat kutido siang dan malam”.

Pocut Baren wafat dan dimakamkan di kampung halamannya, Kemukiman Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.

Sebagai bentuk penghargaan Pemerintah Aceh memberi nama salah satu jalan di kota Banda Aceh dengan nama Pocut Baren.

Pergelaran sendratari perjuangan Pocut Baren di ajang PKA 7 tersebut selain disaksikan ribuan penonton, juga disaksikan oleh salah seorang seniman senior Aceh Barat yaitu Hj Cut Asiah Daud, setelah pergelaran selesai, Hj Asiah Daud menyempatkan diri memberikan ucapan selamat kepada para pemain dan sutradara yang telah berhasil menampilkan pertunjukan yang sempurna dan spektakuler. (*)