Saat Gerhana Bulan Total Nanti, Waspadai Gelombang Tinggi

113
Proses gerhana bulan terlihat di langit Surabaya, Jawa Timur, 4 April 2015. Berdasarkan data Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), gerhana bulan total berlangsung kurang dari 5 menit dan hanya terjadi 2 kali dalam satu milenium. ANTARA/Herman Dewantoro

DILIPUTNEWS.COM – Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengimbau agar mewaspadai efek gabungan gelombang tinggi di laut dengan pasang maksimum saat purnama dan gerhana bulan total.

Menurut dia, angin dari selatan-tenggara masih cukup kencang sekitar 30 kilometer per jam.

“Hal itu menyebabkan gelombang laut setinggi 3 meter di pantai selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, serta pantai barat Sumatera,” ujar Thomas, Jumat (27/7/2018).

Menurut Thomas, gaya pasang-surut air laut karena purnama dan gerhana akan saling memperkuat. Akibatnya pasang air laut menjadi maksimum. “Efek gabungan gelombang tinggi dan pasang maksimum bisa menyebabkan banjir pasang (ROB) melimpas ke daratan yang lebih jauh,” kata dia.

Menurut Thomas, bahwa gerhana bulan total pada saat punama atau micro-moon. Peritiwa ini akan terjadi pada dini hari 28 Juli 2018 di langit barat.

“Fase gerhana sebagian mulai pukul 01:24 sampai pukul 05:19 WIB (untuk WITA dan WIT menyesuaikan),” tuturnya.

Untuk umat Muslim, kata Thomas pada rentang waktu tersebut disunnahkan shalat gerhana. Fase total terjadi pada pukul 02:30-04:13 WIB, selama 107 menit. “Terlama di abad ini,” ungkap dia.

Thomas menjelaskan, saat gerhana bulan total, bulan berwarna merah darah sehingga disebut blood-moon.

Warna merah darah tersebut disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi sehingga warna merah cahaya matahari yang menimpa purnama.