Tinggi Gelombang Laut di Perairan Aceh Capai Enam Meter, BMKG: Ini Berbahaya

83
Ilustrasi gelombang tinggi. Foto: google/hariannusa.

DILIPUTNEWS.COM – Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Ir Budi Karya Sumadi bersama Kepala BMKG Dr Dwikorita Karnawati meminta para Syahbandar di seluruh Indonesia untuk lebih mengetatkan syarat-syarat kepada para kapal sebelum berlayar.

Langkah ini dilakukan untuk mengurangi resiko kecelakaan transportasi laut akibat gelombang tinggi di Perairan Indonesia yang diprakirakan akan terjadi hingga akhir Juli 2018.

Budi Karya dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (22/7/2018) mengatakan selama ini nelayan telah mengetahui kondisi cuaca ekstrim dengan cara kearifan lokal.

Dari sinilah, Ia mengharapkan pemerintah perlu memberikan informasi kepada para nelayan tentang Kondisi cuaca saat ini dengan perhitungan ilmiah dengan harapan tidak akan terjadi kecelakaan akibat gelombang tinggi.

“Informasi yang kami berikan hari ini diharapkan dapat memberikan infromasi yang mudah dipahami dan dimengerti , maka perlu adanya bantuan dari rekan-rekan untuk media massa untuk mendukung penyebaran informasi yang kami sampaikan,”imbuh Budi Karya.

Pada kesempatan yang sama, Dwikorita menambahkan, masyarakat yang menggunakan transportasi laut dan para nelayan perlu mewasapadai gelombang tinggi mencapai enam meter dan diperkirakan akan terjadi pada tanggal 23-28 Juli 2018 mendatang.

“Puncak ekstrimnya terjadi pada 24-25 Juli 2018, dengan peningkatan gelombang tinggi hingga 4-6 meter. Ini sangat berbahaya,” tambahnya.

Gelombang tinggi tersebut berpeluang terjadi di Perairan Sabang, Perairan Utara dan Barat Aceh, Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, Perairan Barat Bengkulu hingga Lampung, Samudera Hindia Barat Sumatera, Selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Jawa hingga Pulau Sumba, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas bagian selatan, Samudera Hindia Selatan jawa hingga NTB.