MPU Sesalkan Penerapan Syariat Islam di Abdya Belum Maksimal

17
Pemprov Aceh Diminta Berani Tegakkan Syariat Islam

Pelanggar Syariat Islam di Aceh
Pelanggar Syariat Islam di Aceh

BLANGPIDIE | DiliputNews.com – Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menyesalkan proses penerapan syariat Islam di Kabupaten setempat masih belum maksimal. Pasalnya, masih maraknya praktik-praktik kegiatan yang melenceng dari ajaran Islam.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua MPU Abdya, Said Marwan Saleh kepada sejumlah wartawan, Selasa (17/2), dimana ia  mengaku sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Abdya saat ini.

Disebutkan, baru-baru ini para remaja dari berbagai jenjang pendidikan larut dengan perayaan hari kasih sayang (valentin) yang setiap tahunnya dirayakan oleh warga non muslim di seluruh dunia. Padahal, sudah jelas bahwa perayaan itu merupakan kebudayaan yang tentunya tidak boleh dirayakan oleh masyarakat Muslim, sebab dalam ajaran agama Islam serta dalam Alquran maupun Hadist perayaan itu dilarang.

Menurut Said Marwan, ini salah satu bukti bahwa penerapan Syariat Islam masih jauh dari harapan dan tidak ada kemajuan.  “Syariat Islam itu bukan hanya beribadah saja, tapi mencakup semua sendi kehidupan dan telah diatur dalam Alquran dan Hadist. Artinya ummat Islam harus menjalankan sesuai dengan tuntunan yang telah ada, jangan menambah-nambah dan jangan pula mengurangi dari dasar yang telah ada,” ungkapnya.

Herannya, lanjut Said, begitu mudah kaula  muda hingga orang dewasa terpengaruh dengan budaya luar. Setiap kali pergantian tahun masehi selalu saja ada kegiatan untuk membuat kemeriahan yang penuh dengan eforia. Budaya-budaya seperti itu jelas akan merusak akhlak dan moral generasi muda di Abdya. Ditambahkan, tidak perlu ikut-ikutan dengan budaya di luar Islam dan hendaknya menjauhi serta menolak budaya itu.

“MPU dan sejumlah ulama di Abdya telah berupaya semaksimal mungkin mengantisipasi hal-hal seperti ini, bahkan aliran sesat pun juga diberantas hingga ke akar-akarnya. Dalam hal ini sangat dibutuhkan peranan Dinas Syariat Islam (DSI) serta masyarakat dalam upaya untuk menghilangkan budaya luar itu,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakan, di zaman yang serba modern ini, perkembangan tekhnologi yang mutakhir seringkali memunculkan dampak yang negatif terhadap kehidupan remaja muslim, budaya barat yang masuk secara bebas tanpa adanya filterisasi.

Sekarang ini banyak remaja yang sudah tidak memperhatikan lagi halal atau haramnya makanan yang dikonsumsinya dan lebih menyukai hal-hal yang serba instan, serta dari segi pakaian dan gaya hidup remaja, kini mereka lebih mengikuti gaya budaya barat yang tidak sesuai dengan ajaran Agama Islam, seperti hidup berfoya-foya di kafe-kafe, berpakaian tidak menutup auratnya, dan yang sangat disayangkan, mereka seakan menganggap agama Islam adalah hal yang norak atau kampungan.

“Peran semua lapisan masyarakat sangat dibutuhkan, sehingga budaya luar dapat tersaring dalam kehidupan kita. Jangan menjadikan persoalan syariat Islam ini hanya menjadi tanggung jawab para ulama, akan tetapi, kita selaku ummat Islam memiliki kewajiban dalam hal ini,” pungkasnya. (Red/Zal)