Demo Warga di Lhokseumawe Anarkis

28
Demo Warga di Lhokseumawe Anarkis

Demo Warga di Lhokseumawe Anarkis
Demo Warga di Lhokseumawe Anarkis

BANDA ACEH | DiliputNews.com – Unjuk rasa ratusan warga bekas Desa Blang Lancang dan Rancung di Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, berlangsung anarkis yang mengakibatkan rusaknya pintu gerbang kantor pemerintah itu.Aksi diikuti sekitar 300 warga di Kantor Wali Kota Lhokseumawe tersebut menuntut dibangunnya pemukiman mereka sebagaimana pernah dijanjikan ketika kampung mereka digusur dan dijadikan kilang LNG Arun sejak 1974.

Sejumlah petugas Satpol PP dan personel polisi yang berjaga-jaga di pintu gerbang masuk Kantor Wali Kota Lhokseumawe sempat saling dorong dengan massa.

Akibatnya, pintu pagar roboh dan akhirnya massa masuk ke perkarangan kantor kepala daerah tersebut. Dalam aksi saling dorong tersebut, seorang pengunjuk rasa terluka kepalanya.

Bahkan, sesaat massa berhasil masuk, terjadi aksi pengeroyokan terhadap seorang petugas keamanan karena disangka provokator. Akibatnya, polisi melepaskan beberapa tembakan ke udara hingga suasana kembali tenang.

Massa yang meminta bertemu dengan wali kota Lhokseumawe, namun tidak berhasil. Mereka hanya bertemu dengan Sekdakot Lhokseumawe Dasni Yuzar. Dalam kesempatan itu, Dasni Yuzar mengaku tidak bisa mengambil keputusan.

“Namun pada prinsipnya, Pemerintah Kota Lhokseumawe akan membantu upaya yang dilakukan oleh masyarakat eks Blang Lancang-Rancung,” kata sekretaris daerah tersebut.

Massa tidak puas mendengar jawaban tersebut. Dalam unjuk rasa itu, massa menghadiahi pakaian dalam kepada Sekdakot Lhokseumawe. Hingga pukul 16.00 WIB, massa masih bertahan di halaman Kantor Wali Kota Lhokseumawe.

Tri Juwanda, koordinator aksi, mengatakan, kedatangan warga menuntut realisasi nyata dari perjanjian ganti rugi pada 1974. Saat itu, warga dijanjikan lahan relokasi sebagai pengganti tanah mereka yang telah dipergunakan untuk pembangunan kilang gas PT Arun.

“Selain itu, kami juga mendesak kejelasan terkait penyelesaian konkret kasus resetlement Blang Lancang dan Rancong. Akibat dibangunnya kilang gas di tempat kami, warga Blang Lancang dan Rancong tergusur dari tempat tinggalnya,” ujar dia, Selasa 21 Oktober 2014.

Dalam aksi tersebut, massa juga mendesak Pemerintah Kota Lhokseumawe mengeluarkan pernyataan tertulis guna kejelasan pembangunan mukim masyarakat eks Blang Lancang dan Rancung tahun 2014.

“Apabila tuntutan tersebut tidak diindahkan, maka masyarakat dan mahasiswa Blang Lancang Rancung, akan mengambil tindakan terakhir dengan memboikot PT Arun,” kata Tri Juwanda.

Sebelumnya, massa serupa melakukan aksi unjuk rasa di pintu masuk PT Arun pada 15 Oktober 2014 dengan tuntutan yang sama. Saat unjuk rasa warga, sedang berlangsung seremoni pengapalan terakhir gas alam cair PT Arun ke luar negeri.(Red/Ant)