Ratusan Lapak Pedagang Kaki Lima Banda Aceh Dibongkar

oleh
Pedagang Kaki Lima Banda Aceh  / Ilustrasi
Pedagang Kaki Lima Banda Aceh / Ilustrasi

BANDA ACEH | DiliputNews.com – Ratusan lapak pedagang kaki lima di di Jalan Tgk Chik Pante Kulu, kawasan Pasar Atjeh, Kota Banda Aceh, dibongkar oleh aparat gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja, TNI, Polri dan petugas terkait lainnya, Rabu (23/10).

Kepala Badan Layanan Usaha Daerah UPTD Pasar Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Banda Aceh Mirfata mengatakan, pembongkaran sudah lama direncanakan.

“Kami juga sudah memberitahukan jauh hari kepada para pedagang, baik lisan maupun tertulis terkait pembongkaran lapak dagangan mereka,” katanya.

Setelah kios dibongkar, kata dia, para pedagang direlokasi ke sejumlah pasar yang ada di Banda Aceh. Pasar-pasar tersebut sudah lama dibangun, namun belum berfungsi karena tidak ditempati pedagang.

“Soal pedagang tidak mau direlokasi, itu urusan nanti. Kami sudah menyampaikan bahwa lapak dagangan mereka di tempat ini dibongkar. Dan di sepanjang jalan ini dilarang berjualan,” tegas dia.

Sementara itu, Ketua Persatuan Persaudaraan Pedagang Pasar Atjeh (P4A) Muzakir Reza Fahlevi menyatakan pembongkaran kios pedagang tidak ada pemberitahuan resmi dari pemerintah kota.

“Kami bukannya ingin menghalangi pembongkaran, tetapi alangkah baiknya diberitahukan dulu. Apalagi pembongkaran ini telah menghilangkan pendapatan pedagang hari ini,” kata dia.

Selain itu, lanjut dia, setelah pembongkaran harus ada solusinya. Namun ini tidak, pedagang tidak tahu ke mana berjualan setelah lapak dagangan mereka dibongkar.

Namun Musafir (43), pedagang buah, mengakui ada pemberitahuan pada pertengahan Oktober terkait pembongkaran lapak dagangan.

“Memang ada surat pemberitahuannya. Namun, kami tetap bertahan karena kami tidak tahu ke mana berjualan lagi. Apalagi sewa kios di bangunan pasar mencapai jutaan rupiah,” kata dia.

Hal senada diungkapkan Rusman, pedagang aksesori, yang mengatakan dirinya tetap berjualan di Jalan Tgk Chik Pante Kulu karena tidak sanggup menyewa kios di Pasar Atjeh.

“Pendapatan bersih saya cuma berkisar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu, mana sanggup sewa kios yang harganya mencapai Rp6 juta setahun. Karena itu kami bertekad tetap berjualan di tempat ini,” kata dia.

Menurut dia, pembongkaran ratusan lapak pedagang kaki lima di Jalan Tgk Chik Pante Kulu tersebut sebagai bentuk ketidakpedulian Pemerintah Kota Banda Aceh.

“Kami hanyalah pedagang kecil, mencari nafkah keluarga. Kalau begini, kami tidak bisa berbuat banyak karena tidak mampu melawan pemerintah yang tidak peduli kepada masyarakat kecil,” kata dia.(Red/Ant)