Arafah Dan Daya Hipnotisnya

oleh
Arafah dan Daya Hipnotisnya
Arafah dan Daya Hipnotisnya
Arafah dan Daya Hipnotisnya

Arafah memang hanyalah sebidang lahan seluas 30 juta meter persegi. Namun, lahan ini seakan memiliki daya magis bagi umat Islam, terutama yang berhaji atau pernah berhaji.

Pada Senin (14/10), sekitar 168 ribu umat Islam Indonesia berkumpul bersama jutaan Muslim lain dari seluruh dunia. Dalam terminologi Islam, berkumpul di Arafah adalah sebuah simulasi berkumpul di Padang Mashar, kelak.

Kaum pria mengenakan pakaian serupa yang terdiri atas dua helai kain ihram warna putih tanpa berjahit. Pakaian bagi kaum wanita, batasan modelnya lebih longgar. Mereka boleh mengenakan pakaian apa saja asal tidak ketat dan menutup aurat.

Mayoritas warga Indonesia memilih warna putih sebagai pakaian ihram mereka. Meski, Muslimah negara lain tampak memilih warna yang lebih beragam. Jamaah Indonesia  memulai acara wukuf pukul 11.00 waktu Arab Saudi (WAS).

Sesekali terdengar isak tangis saat khotbah disampaikan dari tenda besar yang disulap menjadi masjid. Saya pun melihat ke sekeliling saya. Teman-teman seperti terhipnotis.

Mereka terus menengadahkan tangan, berdoa. Meski tak dimungkiri, ada juga orang yang sesekali masih lalu-lalang dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Di pojok lain, bisik-bisik kadang terdengar. Sementara itu, di sebuah pojok tenda, seorang teman menempelkan telepon genggam di telinganya.

Ia berbicara sambil menangis sesenggukan seusai prosesi wukuf. Entah apa yang membuatnya demikian sedih. Rupanya, prosesi wukuf itu membuat ia teringat pada keluarganya di Tanah Air.

Prosesi wukuf di Arafah ternyata juga mengirimkan getaran tersendiri bagi teman saya yang sudah menunaikan ibadah haji sebelumnya. Ia mengaku terpekur melihat siaran langsung wukuf di televisi.

“Aduh, sedihnya menonton siaran wukuf langsung dari Arafah. Tolong doakan saya ya,” katanya kepada saya melalui pesan What’s App.

Pesan serupa secara tertulis datang dari seorang kawan lain di Indonesia. Seperti biasa, orang memang banyak yang menitipkan doa kepada saudara, orang tua, sanak, kerabat, hingga teman yang berhaji.

Doa-doa yang dipanjatkan pada tempat dan waktu tertentu saat haji diyakini lebih makbul dibandingkan saat berdoa di Tanah Air.

Sekarang, saat saya sendiri yang mengalami berhaji, ternyata memahami betapa berat amanah untuk memanjatkan doa-doa titipan itu.

Saya juga jadi memahami, orang-orang yang menititipkan doa pada orang yang berhaji ternyata harus juga pandai-pandai menjaga agar si pelantun doa bisa tulus menyampaikannya kepada Sang Khalik.

Seorang teman lain yang pernah berhaji mengingatkan saya pentingnya makna Arafah. “Di situ, jarakmu dengan Allah kurang dari satu inci saja. Berpuas-puaslah dengan Arafah,” kata sang teman. Kata-katanya membuat saya kian mengharu biru.

Arafah saat wukuf adalah Arafah yang hening, khidmat, dan banjir akan kesadaran diri. Arafah adalah haripelantikan bagi mereka yang menjalankan ibadah haji.

Tanpa Arafah maka tak ada haji. Tak heran jika jamaah memaknainya sedemikian rupa. Saat itu, sebutan jamaah calon haji berganti menjadi jamaah haji. Meski, sejumlah tahapan lain masih harus dilakukan untuk menyempurnakan rukun haji.

Saya menatap langit Arafah yang biru. Secara kasat mata, tak ada yang berbeda dengan langit selama di Saudi seperti selama ini. Namun, entah mengapa menatap langit Arafah saat itu terasa lebih menggetarkan.

Kata-kata teman mengenai betapa dekatnya kita dengan Sang Khalik membuat hati tergetar. Agaknya, memandang langit Arafah—atau apa pun itu—memang bergantung pada seberapa dalam kita memaknainya.(Red/Rol)