Se-Tahun Bupati H.T Alaidinsyah Dan H.Rahmat Fitri.HD Untuk Aceh Barat Lebih Maju

oleh
Bupati Aceh Barat, H T Alaidinsyah Dan Wakil Bupati Aceh Barat, Drs.H. Rachmat Fitri, HD
Bupati Aceh Barat, H T Alaidinsyah Dan Wakil Bupati Aceh Barat, Drs.H. Rachmat Fitri, HD
Bupati Aceh Barat, H T Alaidinsyah Dan Wakil Bupati Aceh Barat, Drs.H. Rachmat Fitri, HD

“Ingin Mengabdikan Diri Untuk Masyarakat, Itulah Yang Membuat Saya Memilih Menjadi Seorang Bupati,”

Kata tersebut dilontarkan  H. T. Alaidinsyah, selaku Bupati Aceh Barat, yang berpasangan dengan H. Rahmat Fitri. HD selaku Wakil Bupati Aceh Barat, periode 2012- 2017, kepada DiliputNews.com.

Bagi Alaidinsyah  menjadi Bupati bukan lagi tujuan untuk mencari popularitas, maupun memperkaya diri, tapi tujuan utamanya adalah membangun Aceh Barat  lebih baik dan maju kedepannya, dengan visi yang diusung“ Terwujudnya Masyarakat Aceh Barat yang Makmur, Sehat dan Berwawasan”

Pengabdian tulus yang dilakukan Alaidinsyah bersama Rahmat Fitri HD, tak terasa sudah berjalan satu tahun, selama satu tahun itu pula realisasi program ke duanya sudah mulai ditunjukan sesuai dengan Visi- Misi pasangan tersebut.

Pembenahan terus dilakukan seperti melakukan pembenahan organisasi pemerintahan dengan melakukan perombakan kabinet Pemerintahan Kabupaten Aceh Barat, dengan memposisikan pejabat struktural dan fungsional sesuai dengan keahlian pada bidang masing- masing.

Menurut Alaidinsyah menempatkan para pemangku jabatan sesuai dengan keahlian masing- masing dan dapat bekerjasama dengan baik dibawah kepemimpinannya sangatlah penting untuk kepentingan pembangunan Aceh Barat disegala bidang, karena ia tidak ingin daerah yang ia pimpin tersebut gagal dari segala aspek pembangunan.

“ Jika struktur organisasi pemerintahan tidak kita rombak, dengan menempatkan posisi sesuai dengan keahlian dan kemampuan para pejabat struktural dan fungsional dengan baik maka Aceh Barat ini akan lumpuh, kita tidak ingin terjadi stagnan (macet-red) dalam pembangunan, lalu saya dianggap gagal sebagai pemimpin” kata dia.

Selama setahun memimpin berbagai gebrakan pun dilakukan dan mulai dirasakan ditengah masyarakat Aceh Barat, untuk tingkat gampong misalnya untuk memdukung berjalannya pembangunan dengan tetap melestarikan kearifan lokal sesuai dengan nilai budaya serta adat istiadat setempat yang berlandaskan Syariat Islam, aparatur Gampong dituntut untuk membuat Reusam (aturan tingkat Gampong), dengan melibatkan masyarakat Gampong maupun akademisi.

“ Jika ada Gampong yang tidak membuat atau menyelesaikan Reusam gampong maka apa yang menjadi upah atau jerih payah Perangkat gampong kita tahan hingga mereka berhasil merumuskan reusam tersebut. Dan ini kita sudah bicarakan perangkat Gampong semuanya setuju” Papar Alaidinsyah.

Reusam yang diharapkan beliau selain mengatur tentang kearifan lokal yang ada ditingkat gampong masing- masing, dalam reusam tersebut juga diharapkan adanya aturan tentang tata kelola pembangunan tingkat gampong sesuai dengan potensi sumber daya yang dimiliki gampong tersebut.

Gebrakan lain yang dilakukan Alaidinsyah adalah pembangunan dibidang insfrastrukur yang terus ditingkatkan guna mendukung roda ekonomi masyarakat kabupaten yang dijuluki bumi Teuku Umar itu.

***
Selama setahun pemerintah H T Alaidinsyah dan H Rahmat Fitri HD, Hasnazaruddin menilai sudah ada gebrakan-gebrakan positif yang sudah dilakukan. Pembangun Infrastruktur, sudah sangat jelas terlihat  selama kepemimpinan ini.

Apresiasi terhadap kepemimpinan H T Alaidinsyah selaku Bupati dan Rahmat Fitri Wakil Bupati Aceh Barat, juga mendapat apresiasi dari masyarakat Aceh Barat, Hasnazaruddin warga Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat.

Salah satu perkembangan yang ia rasakan saat ini adanya pembangunan Jalan Letnan Mubin, di kawasan ia tinggal. Ia menilai setelah jalan itu di bangun warga sangat merasakan dampak dan manfaatnya, perekonomian warga juga mulai hidup.

“ Sejak jalan itu di Bangun akses jalan ditempat kami semakin mudah di lalui. Bukan Cuma itu dulu kami selalu terhirup debu saat melintas sekarang sudah tidak lagi. Di daerah kami dekat area persawahan warga adanya jalan aspal membuat petani bisa mudah mengangkut hasil pertaniannya” Ungkapnya.

Ia juga menilai sejak Pemerintahan Pasangan H T Alaidinsyah dan H Rachmat Fitri HD, dampak lain yang dirasakan menurutnya di bidang tata kelola  kota Meulaboh, sebagai ibukota Kabupaten Aceh Barat, juga sudah mulai terlihat pembenahannya.

Disisi pembangunan ekonomi di Kabupaten tersebut menurutnya juga mulai terlihat, dengan adanya keseriusan Pemkab Aceh Barat dalam membuka diri untuk masuknya Investor yang hendak berinvestasi di tempat itu.

“ Masuknya Investor ini jelas untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, kita bisa lihat saat ini penciptaan ekonomi pasar di Aceh Barat sudah mulai tumbuh. Ini tidak terlepas dari keerbukaan pemerintah terhadap masuknya orang luar” kata dia.

Apresiasi lain yang dapat di banggakan menurutnya, adalah keseriusan pemerintah dalam mengembangkan perekonomian berbasis kerakyatan seperti membuka pusat jajanan bagi pedagang kecil yang berada di Jalan Sudirman, Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan yang disebut dengan nama Sudirman Square.

Keseriusan lainnya yang ditunjukan pasangan tersebut, kata dia, juga terlihat di Bidang pendidikan yang saat ini sedang gencarnya melakukan proses lobby untuk mempercepat proses penegerian dua sekolah tinggi yang ada di Aceh Barat, yaitu Univeritas Teuku Umar, dan Sekolah Tinggi Agama Islam ( STAI ) Tgk Di runding, meski belum ada hasil.

Terkait dengan keterlibatan perempuan dalam kebijakan pemerintah, Hasnazaruddin menilai, pemerintah sudah membuka ruang seluas-luasnya terhadap keterlibatan perempuan. Namun sayangnya ketika kesempatan tersebut telah terbuka, kata dia, di Aceh Barat banyak perempuan yang tidak mau melibatkan diri, belum ada kesadaran dari kaum perempuan untuk melibatkan diri dalam pengambilan kebijakan pemerintah.

“ Dalam birokrasi pemerintah, sudah mulai terlihat ada profesionalisme. Seperti penempatan pejabat sesuai dengan kemampuan dan keahliannya” ujarnya.

Untuk saluran irigasi pada area persawahan masa pemerintahan Alidinsyah Juga terus digenjot, seperti yang dikemukakan oleh Koordinator LSM Yayasan Bina Desa Sadajiwa Sektariat Aceh Barat, Lorent, mengatakan di kecamatan samatiga yang merupakan daerah pendampingan LSM tersebut kini masyarakat petani sudah mulai merasakan dampak yang lebih baik masa keperintahan Alaidinsyah dengan di bangunnya saluran irigasi persawahan warga, dibeberapa desa kecamatan tersebut.

“ Adanya pembangunan saluran irigasi di area persawahan warga maka ketika masyarakat membutuhkan air untuk dialiri kesawah mereka kini sudah mulai bisa dinikmati petani setempat” kata dia.

***
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun DiliputNews.com dari Humas Setdakab Aceh Barat, selama setahun, dibidang insfrastruktur misalnya, pembangunan jalan dengan aspal beton di beberapa tempat yang sebelumnya direncanakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah atau RPJM 2012- 2017, setiap tahunnya hanya sepanjang 15 Kilo Meter, namun tahun 2013 telah mencapai 26,5 Kilo Meter. Pembangunan  jembatan sepanjang 1097 Meter.

Peningkatan Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik 54 persen (477,4 km), peningkatan Proporsi panjang jembatan dalam kondisi baik 67,87persen (4764,2 m), Pembangunan jalan dengan  panjang ruas jalan pasca bencana, untuk jalur evakuasi sepanjang 113 Kilo Meter.

Untuk sarana penyedian air baku di Kabupaten tersebut sebagai kebutuhan pokok masyarakat sehari- hari juga semakin ditingkatkan bahkan tahun ini sudah tercatat 85,95 persen, disegi prasarana air untuk irigasi persawahan masyarakat dengan memanfaatkan irigasi yang sudah ada dan yang sedang dalam pembangunan juga terus digenjot.

Dibidang penanganan bencana alam seperti wilayah Manajemen Kebarakan ( WMK ) sudah mencakup 33 persen, dengan satu 1 WMK mampu menangani emapt kecamatan, dengan pola yang diatur petugas dapat merespon waktu mampu menjangkau wilayah bencana kebakaran 15 menit untuk tingkat waktu tanggap.

Kabupaten Aceh Barat juga telah menyediakan Peta Kajian, RPB, RAD, Renkon,Peta Kajian dan Peraturan Bupati Aceh Barat Disaster Risk Map (ABADRM) TDMRC Unsyiah, Peraturan Bupati Nomor : 28 Tahun 2012 Tentang Rencana Kontinjensi Mengadapi Gempa dan Tsunami. Sedangkan Kesiapanan Mobil dan alat Pemadam kebakaran berjumlah 4 unit.

Untuk bidang pemberdayaan masyarakat juga semakin baik dan telah mencapai 25 Persen di tahun 2013 ini, dengan menyalurkan  Alokasi Dana Gampong atau ADG sebesar 3,21 miliar, untuk 321 gampong yang ada, selain itu keaktifan kantor gampong juga terus di genjot dan saat ini sudah tercatat 200 kantor Gampong yang aktif untuk melayani masyarakat gampong, meski saat ini tempatnya belum memadai, dan terus ditingkatkan.

Bidang perikanan, prosentase produksi penangkapan ikan 15.479,60 ton atau 79,49  persen target 19.473,50 ton dan total produksi perikanan (t+b) 15.825,72 atau 81,27 persen, prosentase produksi budidaya ikan 346,12 ton 1,78 persen, prosentase produksi benih 250.000 ekor atau   83,33  persen dan target 300.000 ekor, prosentase produksi pengolahan hasil perikanan 180 ton atau 47,37 persen dari target 380 ton, prosentase peningkatan rata-rata penghasilan pembudidaya ikan 20 persen tahun 2012 Rp.  800.000,-, prosentase konsumsi ikan 91,91 persen.

Di bidang Koperasi, pada tahun 2013 terdapat sebanyak 189 unit koperasi aktif dari 365 unit  dan pada tahun 2012 jumlah koperasi 345 unit, namun Koperasi yang sehat hanya terdapat 20 unit dari 189 unit koperasi,  sedangkan prosentase koperasi yang telah mengalami peningkatan klasifikasi sebanyak 35 persen dari Koperasi Sehat.

Dibidang kesehatan Pemkab Aceh Barat dibawah kepemimpinan Alaidinsyah dan Rahmat Fitri HD juga semakin lebi baik, misalnya angka gizi buruk tahun 2013 juga sudah menurun drastic dan hanya tercatat 0,02 persen lagi yang tersisa. Kemampuan pelayanan gawat darurat level 1 (3-6 jam) sebesar 100 persen, layanan Gawat darurat Level 1 sementara Layanan Gawat Darurat adalah 24 jam dan tersedia 22 orang dokter spesialis.

Di bidang sosial, jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)  yang memperoleh bantuan sosial  melalui kelompok usaha bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomis sejenis lainya sebanyak 30 Kelompok Dana, Panti sosial yang menyediakan sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan social 83 persen, korban bencana yang menerima bantuan sosial selama masa tanggap darurat sebesar 100  persen.